
PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) menyatakan segmen pembiayaan mobil bekas masih memiliki ruang tumbuh di tengah membaiknya pasar otomotif nasional. Perusahaan menilai kendaraan bekas tetap menjadi pilihan menarik bagi konsumen yang semakin selektif memilih kendaraan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.
Pasar Otomotif Membaik
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan mobil baru secara wholesales pada Januari–Agustus 2026 mencapai 599.491 unit, naik 20,1% dibanding periode sama tahun lalu. Sementara penjualan retail tercatat 594.984 unit, tumbuh 13,9% secara tahunan, dengan capaian Agustus 2026 sebesar 83.442 unit menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan tren tersebut mencerminkan momentum positif di pasar otomotif, meski pasar mobil bekas memiliki karakteristik dan dinamika permintaan tersendiri. Menurutnya, mobil bekas tetap diminati konsumen yang mencari harga lebih terjangkau, sehingga membuka ruang bagi perseroan untuk memperkuat pembiayaan di segmen ini secara selektif.
Ia menambahkan, kendaraan jenis multi purpose vehicle (MPV) dengan harga di bawah Rp200 juta masih menjadi salah satu pilihan favorit konsumen, menegaskan bahwa faktor keterjangkauan tetap jadi pertimbangan utama dalam keputusan pembelian kendaraan.
Pembiayaan Tumbuh Signifikan
Hingga Mei 2026, pembiayaan mobil bekas BRI Finance tercatat tumbuh 77,64% secara tahunan. Untuk memperkuat penetrasi di segmen ini, perseroan mengoptimalkan jaringan pembiayaan, memperkuat kerja sama dengan dealer, serta meningkatkan kualitas proses akuisisi dan layanan konsumen tanpa mengabaikan pengelolaan risiko.
“Pertumbuhan pembiayaan tetap kami dorong dengan pendekatan yang selektif. Kami terus mencermati perkembangan pasar dan daya beli masyarakat, sekaligus memastikan kualitas aset dan penerapan manajemen risiko tetap menjadi bagian penting dalam setiap proses pembiayaan,” kata Dhani.
Catatan Redaksi. Pembiayaan mobil bekas biasanya dinilai lebih berisiko bagi perusahaan multifinance karena nilai jaminan kendaraan sudah menyusut dan riwayat pemakaiannya tidak selalu jelas, sehingga proses penilaian atau appraisal unit menjadi lebih ketat dibanding mobil baru. Pertumbuhan pembiayaan di segmen ini pun lazim diimbangi dengan pengetatan seleksi debitur dan pemantauan kualitas aset, agar kenaikan volume tidak diikuti lonjakan kredit bermasalah.
Sumber: PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance).





