
Persaingan memperebutkan ruang di pusat perbelanjaan kelas atas Jakarta semakin ketat. Berdasarkan laporan Colliers Quarterly kuartal pertama 2026, tingkat okupansi rata-rata mal premium di Jakarta bertahan di angka 90%, menandakan lahan ritel strategis kian langka sementara minat penyewa baru tidak surut.
Sektor makanan dan minuman (F&B) menjadi salah satu pendorong utama tren ini. Sejumlah brand asing dari Jepang hingga Eropa, seperti HATOYA Kyoto, Hikiniku to Kome, dan Läderach, tercatat membuka gerai baru di lokasi premium seperti Plaza Indonesia dan Senayan City. Bank Indonesia mencatat penjualan kategori makanan dan minuman tumbuh 8,5% secara tahunan menjelang akhir tahun lalu, memperkuat sinyal permintaan yang terus naik.
Baca juga:
Tantangan di Balik Ekspansi
Di balik angka pertumbuhan tersebut, membuka gerai baru bukan perkara mudah. Brand yang berekspansi harus menghadapi tenggat waktu ketat, standar desain yang harus konsisten dengan identitas global, serta detail teknis mulai dari perizinan hingga interior yang kerap terlewat dalam perencanaan awal.
Henri Kristanto Pribadi, Direktur PT Ardeco Karya Global, kontraktor sipil dan interior yang menangani sejumlah proyek F&B dan ritel di Jakarta, menilai kontraktor umum tidak selalu cocok untuk proyek jenis ini. Menurutnya, proyek F&B dan ritel menuntut kecepatan pengerjaan, presisi detail, serta kepatuhan pada standar brand dari negara asal yang berbeda dari proyek residensial atau perkantoran biasa.
Ardeco memposisikan diri sebagai mitra eksekusi bagi brand lokal maupun internasional yang berekspansi di Indonesia, dengan fokus pada pemahaman kebutuhan operasional F&B seperti alur kerja dapur, tata ruang pengunjung, hingga detail estetika yang mencerminkan identitas brand. Henri menambahkan, kebutuhan akan kontraktor spesialis semacam ini diperkirakan akan terus meningkat selama minat brand global terhadap pasar Jakarta belum menunjukkan tanda melambat.
Catatan Redaksi. Okupansi mal merujuk pada persentase unit ritel yang tersewa dari total ruang yang tersedia, sehingga angka 90% menandakan hampir seluruh ruang di mal premium sudah terisi penyewa. Merek F&B global umumnya memburu lokasi seperti Plaza Indonesia atau Senayan City karena lalu lintas pengunjung kelas menengah atas di sana dianggap sepadan dengan biaya sewa yang lebih tinggi dibanding mal biasa.
Sumber: PT Ardeco Karya Global.





