
PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) mencatatkan perbaikan kualitas pembiayaan hingga Juli 2026. Rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Finance (NPF) perusahaan tercatat sebesar 1,82%, turun 29 basis poin (bps) secara year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perusahaan menyebut penurunan rasio tersebut sebagai hasil penerapan prinsip kehati-hatian di setiap tahap proses pembiayaan, mulai dari analisis dan seleksi calon nasabah, pemantauan portofolio secara berkala, hingga penguatan fungsi collection dan recovery.
Pendekatan Berbeda untuk Tiap Segmen
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan setiap segmen pembiayaan memiliki karakteristik dan profil risiko yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan pengelolaan risiko yang disesuaikan. Menurutnya, analisis dan seleksi dilakukan secara cermat sejak awal, kemudian diikuti pemantauan berkala agar potensi risiko dapat dideteksi lebih dini.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat turut memengaruhi kualitas pembiayaan, sehingga perubahan profil risiko nasabah perlu terus dicermati agar perusahaan bisa mengambil langkah mitigasi yang tepat.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NPF gross industri perusahaan pembiayaan secara nasional tercatat sebesar 3,01% per Juni 2026. Dengan posisi 1,82% pada Juli 2026, rasio NPF BRI Finance berada di bawah rata-rata industri tersebut. Perusahaan menyatakan akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penyaluran pembiayaan dan kualitas aset ke depan.
Catatan Redaksi. NPF (Non-Performing Finance) adalah rasio pembiayaan bermasalah pada perusahaan multifinance, setara dengan NPL di perbankan, yang menunjukkan porsi kredit yang macet atau berpotensi macet dari total pembiayaan yang disalurkan. Basis poin adalah satuan seperseratus persen, jadi penurunan 29 bps berarti rasio turun 0,29 poin persentase. Angka NPF industri yang dipakai sebagai pembanding berasal dari data OJK selaku regulator yang mengawasi seluruh perusahaan pembiayaan di Indonesia, sehingga rasio ini lazim dijadikan tolok ukur kesehatan portofolio suatu multifinance.
Sumber: PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance).





