Bitcoin Tembus US$74.000: Ini Tiga Sinyal Menuju US$80.000

Bitcoin Tembus US$74.000: Ini Tiga Sinyal Menuju US$80.000

Harga Bitcoin melesat sekitar 7,9 persen dalam 24 jam terakhir pada Jumat (21/8), menyentuh kisaran US$74.409 atau sekitar Rp1,31 miliar. Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan tajam dari level sekitar US$63.000 menjadi mendekati US$75.000 hanya dalam waktu kurang dari dua hari, sekaligus membuka kembali peluang menuju level psikologis US$80.000.

Tiga Faktor Pendorong Reli

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kenaikan kali ini didorong tiga faktor yang bergerak hampir bersamaan: membaiknya likuiditas makro, kembalinya dana institusional lewat ETF Bitcoin spot, serta gelombang likuidasi posisi short. Salah satu pemicu utamanya adalah langkah Departemen Keuangan Amerika Serikat pada 19 Agustus 2026 yang menaikkan batas operasi buyback obligasi pemerintah jangka panjang dari maksimal US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi, berlaku 9 September hingga 4 November 2026. Kebijakan ini sempat menekan imbal hasil obligasi dan melemahkan dolar AS, kondisi yang biasanya menguntungkan aset seperti Bitcoin dan emas.

Bacaan Lainnya

Dana Institusi dan Short Squeeze

Pasar ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus dana masuk bersih sebesar US$517,19 juta pada 19 Agustus, inflow harian terbesar sejak 4 Mei 2026. BlackRock IBIT memimpin dengan sekitar US$284,7 juta, disusul ARK 21Shares ARKB sebesar US$77,7 juta dan Fidelity FBTC sekitar US$62,4 juta. Di sisi lain, lebih dari US$3,1 miliar posisi short kripto terlikuidasi saat harga bergerak cepat ke atas, memperbesar tekanan beli di pasar. Glassnode mencatat pergerakan harian Bitcoin kali ini berada sekitar 5,8 standar deviasi di atas volatilitas 30 harinya, yang terbesar sejak Oktober 2023.

Menuju US$80.000, tapi Bukan Kepastian

Secara teknikal, Bitcoin kini berada di atas level psikologis US$72.000 setelah menembus zona resistance US$69.000-US$70.000. Selama area tersebut bertahan sebagai support, peluang penguatan lanjutan ke US$76.000-US$80.000 tetap terbuka, dan Yudho memperkirakan Bitcoin bisa mengakhiri 2026 di sekitar level itu. Namun ia mengingatkan bahwa proyeksi tersebut adalah skenario, bukan kepastian, mengingat konsolidasi atau koreksi sehat sangat mungkin terjadi setelah kenaikan hampir vertikal. Investor juga disarankan mencermati pemungutan suara Senat AS terkait CLARITY Act yang dijadwalkan 15 September 2026, karena kejelasan regulasi aset digital berpotensi menjadi katalis lanjutan bagi pasar kripto.

Sumber: FLOQ.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan