Tigo AI Tawarkan Iklan E-Commerce Berbasis Kreator Lokal

Tigo AI Tawarkan Iklan E-Commerce Berbasis Kreator Lokal

Perusahaan teknologi periklanan Tigo AI memperkenalkan platform pemasaran berbasis kecerdasan buatan yang menyasar pelaku usaha e-commerce di Indonesia, khususnya yang berjualan di Shopee, Lazada, dan TikTok Shop. Platform ini diklaim dapat memangkas biaya produksi konten iklan sekaligus memperluas jangkauan lewat jaringan kreator lokal berskala besar, alih-alih bergantung pada key opinion leader (KOL) papan atas yang berbiaya tinggi.

Menurut keterangan perusahaan, biaya kerja sama dengan KOL besar bisa mencapai jutaan rupiah per konten, sementara tingkat kepercayaan publik terhadap iklan berbayar terus menurun setiap tahun. Tigo AI menawarkan alternatif berupa produksi massal materi iklan menggunakan model AI yang dikembangkan khusus untuk pasar Indonesia, mampu menghasilkan ratusan variasi konten video pendek maupun gambar dalam hitungan jam untuk kebutuhan uji coba A/B.

Bacaan Lainnya

Jaringan Kreator dan Skema Bayar Sesuai Hasil

Selain produksi konten otomatis, Tigo AI membangun jaringan distribusi yang melibatkan lebih dari 100 ribu kreator atau pengguna biasa sebagai simpul penyebaran konten, dengan tujuan menghadirkan promosi yang terasa lebih autentik dibanding iklan konvensional. Perusahaan juga menonjolkan skema biaya yang disebut transparan, yakni tarif layanan platform sebesar 15 persen serta opsi pembayaran berbasis konversi transaksi (cost per sale), dilengkapi sistem deteksi trafik palsu.

Layanan ini disebut menyasar berbagai skala bisnis, mulai dari brand besar dengan omzet bulanan di atas Rp1 miliar yang mendapat pendampingan khusus, penjual menengah yang dicocokkan dengan kreator niche, hingga pelaku UMKM yang bisa mulai beriklan dengan anggaran mulai Rp50 ribu. Perusahaan mengklaim sejumlah brand nasional seperti Indofood, Wardah, dan BCA telah menjadi mitra dalam memanfaatkan pendekatan berbasis AI dan kreator ini.

Tigo AI memposisikan diri sebagai bagian dari tren pergeseran strategi periklanan digital di Indonesia, dari model yang mengejar jumlah tayangan (CPM) menuju model berbasis hasil nyata seperti konversi penjualan, seiring proyeksi pertumbuhan pasar iklan digital dan ekonomi digital nasional dalam beberapa tahun mendatang.

Catatan Redaksi. KOL (key opinion leader) merujuk pada figur dengan banyak pengikut yang dibayar mempromosikan produk, sedangkan CPM (cost per mille) adalah model tarif iklan berdasarkan jumlah tayangan, bukan hasil penjualan. Pergeseran ke skema cost per sale berarti pengiklan hanya membayar saat transaksi benar-benar terjadi, sehingga risiko biaya iklan yang tidak berujung penjualan berpindah dari pengiklan ke penyedia platform. Uji A/B sendiri adalah metode membandingkan beberapa versi konten untuk melihat mana yang paling efektif menarik pembeli.

Sumber: Tigo AI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan