
Menentukan besaran cicilan yang sesuai dengan kondisi keuangan menjadi langkah penting sebelum mengajukan pinjaman. Salah satu metode yang umum digunakan untuk mengukurnya adalah Debt Service Ratio (DSR), yaitu perbandingan antara total kewajiban cicilan bulanan dengan pendapatan bulanan. Rasio ini kerap dipakai lembaga keuangan sebagai salah satu pertimbangan dalam menilai kemampuan bayar calon peminjam.
Tidak Ada Angka Baku
Tidak ada persentase yang berlaku sama untuk setiap orang. Perencana keuangan umumnya menyarankan agar total cicilan tidak mengambil porsi terlalu besar dari penghasilan, sehingga kebutuhan pokok, tabungan, dan dana darurat tetap terpenuhi. Besarannya bergantung pada jumlah penghasilan, pengeluaran rutin, tanggungan keluarga, dana darurat, hingga tujuan keuangan jangka panjang.
Rumus dan Contoh Perhitungan
DSR dihitung dengan membagi total cicilan bulanan dengan pendapatan bulanan, lalu dikalikan 100%. Sebagai ilustrasi, jika pendapatan bulanan sebesar Rp8.000.000 dan total cicilan Rp2.000.000, maka DSR-nya adalah 25%. Artinya, seperempat dari pendapatan digunakan untuk membayar cicilan, sementara sisanya masih bisa dialokasikan untuk kebutuhan hidup dan investasi. Perhitungan ini hanya ilustrasi, bukan penilaian kelayakan kredit.
Tips Menjaga Cicilan Tetap Sehat
Selain menghitung DSR, beberapa langkah dapat membantu menjaga kondisi keuangan tetap stabil: menghitung seluruh pengeluaran bulanan sebelum mengambil cicilan baru, menyisihkan dana darurat, menghindari mengambil banyak pinjaman sekaligus, membayar cicilan tepat waktu, serta mengevaluasi kemampuan bayar secara berkala saat pendapatan atau pengeluaran berubah.
Bagi yang membutuhkan tambahan dana, layanan pinjaman digital dari bank berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan, dengan catatan jumlah pinjaman dan tenor disesuaikan dengan kemampuan finansial agar kewajiban dapat dipenuhi tepat waktu.
Sumber: PT Bank Neo Commerce Tbk.





