RS Jantung Harapan Kita Pengampu Rujukan Kardiovaskular

Jakarta, 10 November 2018 – Dalam rangka memperingati hari ulang tahun RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita yang ke 33, diadakan Sarasehan Penguatan Pelayanan Kardiovaskuler di Rumah Sakit Jejaring di Indonesia, di Jakarta (10/11). Acara dibuka oleh Menkes Nila F. Moeloek.

Pada kesempatan tersebut, Menkes melihat pelayanan kateterisasi sebagai salah satu unggulan layanan dengan alat canggih, Cath Lab. Menkes juga melihat fasilitas layanan unggulan Bedah Jantung Terbuka dan Tindakan Vaskuler.

Sesuai dengan tugas RSJPD Harapan Kita dalam Kepmenkes No.602 Tahun 2017 tentang RSJPD Harapan Kita sebagai Pusat Jantung Nasional maka RSJP Harapan Kita bertugas mengampu jejaring rujukan kardiovaskuler terhadap pelayanan kardiovaskuler secara nasional.

Tujuan dari saresehan kali ini adalah agar peserta dari RS lain dapat belajar dari pengalaman 2 RS yaitu RSUD A.W. Syahrani Samarinda dan RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru, yang telah melakukan pelayanan bedah jantung yang diampu oleh RSJPDHK.

Pada pertemuan ini, para peserta bisa mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah kardiovaskular yang ada, dan untuk mempersiapkan pelayanan bedah jantung terbuka.

Menkes menyatakan bahwa Rumah Sakit Jantung Harapan Kita memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan jantung yang aman, bermutu, anti diskriminasi, efektif, serta mengutamakan perlindungan dan keselamatan pasien.

”Saya mengimbau agar Rumah Sakit Jantung Harapan Kita untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien (Patient Centeredness) dengan pilar utama keselamatan pasien (Patient Safety), dengan senantiasa berupaya meningkatkan mutu pelayanan melalui penerapan standar akreditasi rumah sakit baik nasional maupun internasional,” kata Menkes.

Menkes menegaskan bahwa program penanggulangan penyakit kardiovaskular mencakup mulai dari preventif, promotif.

”Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko, seperti merokok, diet yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi alkohol, agar tidak terjadi hipertensi, obesitas, kolesterol tinggi dan diabetes mellitus yang merupakan penyakit antara sebelum terjadinya penyakit jantung koroner,” kata Menkes.

Penyakit Jantung Masalah Kesehatan Utama

Penyakit Jantung merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan penyebab nomor satu kematian di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015 menyebutkan lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, atau sekitar 31% dari seluruh kematian di dunia, sebagian besar atau sekitar 8,7 juta disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Lebih dari 75% kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah terjadi di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang. Lebih mengkhawatirkan lagi, tren penyakit jantung saat ini tidak hanya diderita oleh penduduk usia lanjut, namun juga sudah banyak ditemukan pada usia muda.

Di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa sebesar 1,5% atau 15 dari 1.000 penduduk Indonesia menderita penyakit jantung koroner. Sedangkan jika dilihat dari penyebab kematian tertinggi di Indonesia, menurut Survei Sample Registration System tahun 2014 menunjukkan 12,9% kematian akibat Penyakit Jantung Koroner.

Dari sisi pembiayaan, berdasarkan data BPJS Kesehatan, penyakit jantung menduduki peringkat teratas untuk biaya rawat inap diantara penyakit katastropik lainnya.

Berbagai upaya telah dilakukan dalam pengembangan pelayanan kardiovaskular, salah satunya mempermudah akses bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kardiovaskular dengan cara menetapkan Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita sebagai Pusat Jantung Nasional dengan tugas mengampu jejaring kardiovaskular.

Adapun fungsi Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita antara lain memetakan jejaring pengampuan nasional terhadap kapasitas/kemampuan Rumah Sakit Rujukan Nasional, Rujukan Provinsi dan Rujukan Regional yang dapat memberikan pelayanan kardiovaskular.

Upaya dalam pengembangan Rumah Sakit Jejaring tersebut melalui 3 tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan pemantapan. Strategi dalam pembinaan jejaring kardiovaskular antara lain pembinaan sarana dan prasarana, pembinaan alat kesehatan dan pembinaan SDM. Untuk pembinaan ini dilakukan perjanjian kerjasama antara Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dengan Rumah Sakit Jejaring.

Kelengkapan sarana dan prasarana serta alat, sangat dibutuhkan untuk penunjang penegakan diagnostik yang akurat guna menentukan terapi yang tepat. Dengan demikian, biaya pengobatan dapat ditekan dan dapat menurunkan angka mortalitas pada pasien.