Pemerintah Dorong Penguatan Ekosistem Emas Nasional

Pemerintah Dorong Penguatan Ekosistem Emas Nasional
Ilustrasi (AI)

Pemerintah mendorong penguatan sistem moneter nasional dengan mengoptimalkan potensi cadangan emas tambang yang diperkirakan mencapai 3.600 ton. Deputi Bidang ESDM Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi, menyatakan Indonesia perlu membangun ekosistem emas secara menyeluruh, mulai dari produksi, penelusuran asal (traceability), pemurnian, perdagangan, hingga bullion banking.

Menurut Elen, jika dikelola dengan baik, emas tidak hanya berfungsi sebagai komoditas tambang, tetapi juga dapat menjadi instrumen keuangan dan aset strategis negara. Ia menekankan bahwa penguatan cadangan emas Bank Indonesia dapat menjadi penyeimbang (stabilizer) di tengah guncangan ekonomi global, melengkapi peran cadangan devisa yang sudah ada.

Bacaan Lainnya

Cadangan Emas RI Masih Tertinggal

Saat ini, emas yang tercatat sebagai cadangan moneter Bank Indonesia baru mencapai 87,1 ton atau sekitar 7,7% dari total cadangan devisa, menempatkan Indonesia di posisi ke-44 dunia untuk kepemilikan cadangan emas bank sentral. Jumlah tersebut jauh di bawah negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang memiliki 8.133,5 ton, disusul Jerman 3.349,5 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton, dan China 2.346,4 ton.

Di sisi produksi, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyebut produksi emas nasional saat ini berkisar 100 ton per tahun. Namun ia mengakui angka resmi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan aktivitas di lapangan, karena masih ada produksi dan penjualan emas yang belum tercatat dalam sistem resmi alias ilegal. Ke depan, pemerintah berencana menata aktivitas pertambangan rakyat melalui skema Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) agar produksi lebih tertata dan dapat dipertanggungjawabkan.

Modal Industri Pengolahan Emas

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat Indonesia memiliki modal industri yang cukup kuat untuk membangun ekosistem emas nasional. PT Antam Tbk, bagian dari Grup MIND ID, memiliki fasilitas pemurnian berkapasitas 150 ton per tahun, sementara Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia mampu memurnikan hingga 50 ton per tahun. Dari sektor swasta, smelter PT Amman Mineral Internasional Tbk mengolah emas dengan kapasitas 18 ton per tahun. Kapasitas produksi bijih emas juga didukung sejumlah perusahaan tambang lain seperti J Resources Asia Pasifik, Merdeka Copper Gold, Archi Indonesia, Agincourt Resources, dan Bumi Resources Minerals.

Catatan Redaksi. Bullion banking adalah skema perbankan yang memperlakukan emas fisik selayaknya aset finansial, mencakup tabungan emas, pembiayaan berbasis emas, hingga sertifikat emas yang bisa diperdagangkan, sehingga logam mulia tak hanya disimpan tapi juga menghasilkan likuiditas. Cadangan emas lazim dijadikan penyeimbang cadangan devisa karena harganya cenderung bergerak berlawanan arah dengan dolar AS saat gejolak ekonomi, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada kekuatan mata uang negara lain.

Sumber: MIND ID.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan