Indonesia Siap Mengatasi Penurunan Ekonomi Global, Ahli: Kunci Utamanya Terletak pada Energi Terbarukan dan Investasi yang Sesuai dengan Risiko

Jakarta, 14 September 2023 – Ekonomi global saat ini sedang mengalami ketidakpastian yang disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk kebijakan suku bunga The Fed, kenaikan harga minyak dunia, dan perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina. Harga minyak dunia, khususnya minyak mentah Brent, telah mencapai $92,06 per barel, naik sekitar $1,42. Selain itu, The Fed diperkirakan akan tetap menjaga suku bunga dalam kisaran 5,25%-5,50%. Efek dari perang Rusia-Ukraina juga telah menyebabkan keterbatasan dalam pasokan komoditas global. Tetapi bagaimana semua ini memengaruhi Indonesia?

Menurut Abdul Manap Pulungan, seorang peneliti dari Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF, dampak gejolak ekonomi dunia ini akan berbeda-beda di setiap negara. Terkait dengan kenaikan harga minyak dunia, Abdul menekankan bahwa dampaknya akan bervariasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Abdul menjelaskan, “Situasi di Amerika, misalnya, akan berbeda dengan di Inggris dan Eropa. Amerika memiliki masalah inflasi, tetapi tingkat pengangguran cukup rendah, sehingga dampak dari harga minyak dunia relatif kecil bagi Amerika. Namun, bagi negara-negara seperti Inggris dan Eropa yang memiliki tingkat inflasi tinggi dan pengangguran tinggi, dampaknya akan lebih terasa.”

Abdul menambahkan bahwa kenaikan harga minyak bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi gejolak ekonomi global. Perang Rusia-Ukraina juga memiliki peran dalam gejolak ini. Dia berpendapat bahwa kenaikan harga minyak bersifat sementara dan tidak akan signifikan seperti tahun sebelumnya. Terkait dengan kebijakan suku bunga The Fed, Abdul mengungkapkan bahwa bank sentral AS memiliki pengaruh besar dalam mengubah situasi ekonomi global.

Abdul menyatakan, “Ketika The Fed mengubah suku bunganya, negara lain biasanya akan mengikuti. The Fed adalah pemimpin dalam pasar keuangan global, sehingga tindakan yang diambil oleh The Fed umumnya diikuti oleh bank sentral lainnya. Oleh karena itu, ada ungkapan bahwa jika The Fed bersin, negara-negara lain akan merasakan efeknya.”

Bagaimana dengan Indonesia? Abdul meyakini bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengatasi gejolak ekonomi global saat ini, mengingat Indonesia telah melewati situasi ekonomi yang lebih sulit sebelumnya. Namun, dia menekankan perlunya penyesuaian internal yang mendalam dan langkah-langkah strategis untuk menghadapi turbulensi ekonomi global dan mencegah dampak terburuk di tingkat domestik.

Abdul menyatakan, “Saya percaya bahwa Indonesia cenderung siap menghadapi gejolak ekonomi global saat ini. Namun, kita perlu melakukan penyesuaian internal terutama terkait dengan kenaikan harga minyak. Kita perlu berpikir tentang diversifikasi produksi yang tidak hanya tergantung pada bahan baku seperti minyak, tetapi juga harus mempertimbangkan energi terbarukan.”

Dia menekankan perlunya kebijakan strategis untuk mengendalikan produsen minyak global agar pembatasan produksi minyak dunia dapat diatur dengan baik. Di dalam negeri, kenaikan harga minyak dunia bisa mendorong pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebagai upaya menjaga stabilitas fiskal dengan tetap menjaga defisit di bawah 3%.

Muliadi San, Pendiri Tumbuh Makna, juga memberikan analisis tentang kekuatan ekonomi Indonesia. Menurutnya, dalam konteks pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), masih cukup stabil dalam menghadapi gejolak ekonomi global belakangan ini. Dia mengatakan bahwa valuasi IHSG tergolong menarik, dengan tren historis menunjukkan bahwa September adalah bulan koreksi, sementara Oktober memiliki kecenderungan pertumbuhan.

Muliadi menyatakan bahwa masih ada peluang positif dalam ekonomi Indonesia yang bisa dimanfaatkan oleh para investor. Dia menyarankan agar investor memahami profil risiko mereka sebelum mengambil keputusan investasi. Strategi pendekatan profil risiko dapat membantu investor melakukan investasi yang kondusif dan aman.

Dia menambahkan bahwa obligasi dengan tenor menengah bisa menjadi pilihan yang baik bagi para investor, terutama dalam tahun 2024. Untuk investor yang lebih konservatif, Sukuk Ritel 019 yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan dapat menjadi pilihan menarik yang juga dapat membantu perkembangan ekonomi nasional.

Related posts

Leave a Reply