Hari Pangan Sedunia Momentum Evaluasi Kedaulatan Pangan Dalam Negeri

Hari pangan sedunia yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober merupakan momentum tepat untuk mengevaluasi sejauh mana capaian pengelolaan pangan di Indonesia. Anggota Komisi IV DPR RI Slamet menilai persoalan pangan memang merupakan hidup dan mati suatu bangsa, namun kedaulatan pangan adalah harga diri suatu bangsa, terlebih lagi di negeri agraris seperti Indonesia.

Dikatakan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, persoalan pangan tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang sederhana sebab pangan juga dapat dijadikan sebagai senjata untuk melakukan penjajahan terhadap suatu bangsa. Jika suatu negara ketersediaan pangannya sangat tergantung oleh pasokan dari negara lain maka sesungguhnya negara tersebut telah terjajah secara tidak langsung.

Slamet menyampaikan, dari hasil evaluasi beberapa tahun terakhir kinerja sektor pangan justru banyak dipertanyakan sebab di tengah klaim Kementerian Pertanian neraca perdagangan sektor pertanian tiap tahun mengalami perbaikan namun untuk beberapa indikator global kondisi Indonesia justru memprihatinkan. “Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa indeks keberlanjutan pangan menunjukkan Indonesia masih menempati ranking ke 60 dari 67 negara yang diukur,” kata Slamet, Senin (18/10/2021).

Ia menambahkan, dengan nilai seperti itu menunjukkan bahwa kondisi indonesia jauh lebih buruk dari negera-negara Afrika seperti Ethopia (Rank 27), Zimbabwe (31), Zambia (32). Data Indeks Kelaparan Global (Global Hunger Index) juga menunjukkan nilai Indonesia terus mengalami penurunan bahkan tahun 2020 menyentuh angka 20.1 atau masuk dalam kategori negara dengan status kelaparan kronis. Selain itu menurut Slamet, kondisi ketergantungan Indonesia terhadap produk pangan impor saat ini sudah masuk pada fase mengkhawatirkan.

Hampir semua bahan pangan krusial, penyediaanya sangat tergantung dari impor. “Lihat saja data impor beberapa komoditas selama semester pertama tahun ini misalnya impor beras sebanyak 221 ribu ton, garam 1,08 juta ton dari target 3,07 juta ton, gula 1,97 juta ton dari target 4 juta ton bahkan impor produk perikanan mencapai 42.079 ton, dengan nilai 65,34 dolar AS juta atau sekitar Rp942,2 miliar,” imbuhnya.

Jika diakumulasikan, kata legislator dapil Jawa Barat IV tersebut, total nilai impor pangan pada semester awal tahun 2021 adalah lebih dari 15 juta ton bahan pokok senilai 8,37 miliar dolar AS atau setara dengan Rp118,9 triliun (kurs Rp 14.200/per dolar AS).  “Data-data ini tentu saja menjadi aleram bahwa masih banyak pekerjaan rumah dalam pengelolaan pangan nasional,” tukasnya. (dep/sf)