
Perusahaan teknologi akuakultur asal Yogyakarta, FisTx Indonesia (PT Aditya Inovasi Makmur), memperkenalkan FisTx Disinfection System (FDS), sebuah sistem sterilisasi air tambak yang memadukan tiga teknologi non-kimia: Baskara UV, Cakra Elektrolisis, dan Nano Disinfektan. Peluncuran ini diusung bertepatan dengan momentum HUT Kemerdekaan RI dengan tema “Tambak Merdeka dari Kaporit”, mengajak pelaku industri udang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dalam proses sterilisasi air budidaya.
Kaporit dan Beban Tersembunyi Petambak
Selama ini kaporit (kalsium hipoklorit) lazim digunakan untuk mensterilkan air tambak, meski sisa dan buangannya termasuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) berdasarkan PP No. 22 Tahun 2021. Risiko ini pernah menjadi kenyataan, seperti insiden keracunan warga di Bekasi pada Februari 2025 akibat pembuangan bubuk kaporit yang tidak tepat. Dari sisi biaya, FisTx mencatat dosis standar 30 ppm untuk kolam seluas 1.000 m2 bisa menghabiskan hingga Rp44 juta per siklus, belum termasuk dampak residu klorin yang menghambat pertumbuhan mikroba baik.
Kalangan pakar turut menyoroti persoalan ini. Dr. Hasanuddin Atjo, Dewan Pakar Shrimp Club Indonesia, sebelumnya mendorong lahirnya inovasi teknologi sterilisasi air baku dalam negeri berbasis UV dan elektrolisis agar industri budidaya udang tidak lagi bergantung pada bahan kimia.
Tiga Lapis Teknologi Tanpa Bahan Kimia
FDS menggabungkan Baskara UV untuk sterilisasi air masuk menggunakan sinar UV-C, Cakra Elektrolisis yang menghasilkan disinfektan alami langsung dari air, serta Nano Disinfektan berbasis ion nano tembaga yang diklaim mampu mengendalikan bakteri Vibrio dan virus tanpa memicu resistensi. Perusahaan mengklaim uji lapangan di sejumlah tambak di Bali, Banyuwangi, Pangandaran, dan Lampung menunjukkan peningkatan hasil panen serta tingkat kelangsungan hidup udang (survival rate) di atas 85% pada beberapa siklus terakhir.
Menurut FisTx, teknologi ini telah digunakan lebih dari lima tahun di 25 provinsi dan tiga negara yakni Kuwait, Timor-Leste, dan Bahrain, dengan lebih dari 40.000 unit produk terdistribusi kepada sekitar 1.500 pembudidaya. CEO FisTx Indonesia, Rico Wisnu Wibisono, menyebut peluncuran ini sebagai simbol kemandirian teknologi anak bangsa agar petambak memiliki opsi sterilisasi air yang lebih aman dan hemat biaya jangka panjang.
Sumber: Siaran pers FisTx Indonesia.





