
Perusahaan teknologi akuakultur asal Yogyakarta, PT Aditya Inovasi Makmur (FisTx), menandatangani nota kesepahaman dengan Pak Gharo Agri & Livestock Farms (PGA&LF), konsultan dan pengembang proyek akuakultur komersial asal Pakistan. Melalui kerja sama ini, PGA&LF ditunjuk sebagai perwakilan resmi sekaligus distributor eksklusif FisTx untuk kawasan Pakistan, Asia Selatan, dan Timur Tengah.
Kemitraan ini menyasar tantangan yang selama ini dihadapi industri akuakultur di kawasan tersebut, mulai dari sulitnya menjaga kualitas air tambak, biaya disinfeksi kimia yang terus meningkat, hingga serangan patogen yang kerap berulang. Dengan kerja sama ini, pelaku usaha, investor, dan institusi pemerintah setempat dapat mengakses satu paket solusi akuakultur dari satu penyedia.
Lima Solusi Terintegrasi
FisTx membawa lima lini solusi yang saling terhubung: teknologi sterilisasi air, produk nutrisi ikan dan udang bermerek AquaSupport, perencanaan dan konstruksi tambak modern lewat Aquadex, pendampingan budidaya lapangan melalui Program TAMPAN, serta pelatihan dan kemitraan strategis. Solusi yang disebut paling siap diadopsi lebih dulu adalah FisTx Disinfection System (FDS), sistem biosekuriti berlapis yang memadukan sterilisasi UV-C, oksidasi elektrokimia, dan disinfektan berbasis ion nano tembaga untuk mengendalikan bakteri, virus, dan Vibrio pada air tambak.
CEO Pak Gharo Agri & Livestock Farms, Arshad Aziz, menyatakan bahwa sektor akuakultur di kawasannya membutuhkan solusi biosekuriti yang sudah teruji di lapangan, bukan sekadar produk tunggal, sehingga kerja sama dengan FisTx diharapkan mempercepat adopsi budidaya berkelanjutan. Sementara itu, Founder & CEO FisTx, Rico Wisnu Wibisono, menyebut perusahaannya membangun solusi sebagai satu ekosistem yang kini dapat diterapkan langsung oleh pelaku budidaya di Pakistan, Asia Selatan, dan Timur Tengah.
Setelah lima tahun beroperasi di 25 provinsi di Indonesia serta merambah pasar Kuwait, Timor-Leste, dan Bahrain, FisTx mengklaim telah mendistribusikan lebih dari 40.000 produk. Kedua perusahaan berencana menyusun perjanjian kemitraan yang mengikat dalam 90 hari ke depan, lengkap dengan indikator kinerja dan tinjauan bersama setiap triwulan.
Catatan Redaksi. UV-C dan oksidasi elektrokimia adalah metode sterilisasi air tanpa bahan kimia konvensional, sinar ultraviolet gelombang pendek merusak DNA mikroorganisme, sementara oksidasi elektrokimia menghasilkan senyawa pembunuh patogen lewat aliran listrik pada air. Kombinasi ini jadi alternatif disinfeksi klorin yang biasa dipakai tambak, karena residunya lebih rendah dan tidak mengubah kualitas air secara drastis. Adapun nota kesepahaman atau MoU sendiri baru mengikat niat kerja sama, sehingga rincian bisnis seperti hak distribusi eksklusif baru dituangkan dalam perjanjian formal berikutnya.
Sumber: PT Aditya Inovasi Makmur (FisTx).





