
BTSE Indonesia mengajak investor aset kripto untuk menempatkan mata uang digital sebagai salah satu komponen terukur dalam perencanaan keuangan, bukan tujuan utama untuk mengejar keuntungan cepat. Menurut perusahaan, kemerdekaan finansial pada dasarnya adalah kemampuan mengendalikan pendapatan, pengeluaran, tabungan, utang, dan keputusan investasi secara keseluruhan.
Pernyataan ini merujuk pada hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 oleh OJK dan BPS, yang mencatat indeks literasi keuangan nasional sebesar 66,46% berbanding indeks inklusi keuangan 80,51%. Selisih sekitar 14 persen ini dinilai menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap produk investasi tumbuh lebih cepat dibanding pemahaman mereka atas risiko dan biaya yang menyertainya.
Empat Langkah Sebelum Berinvestasi
BTSE Indonesia menyarankan empat langkah pengendalian risiko sebelum masuk ke pasar aset kripto yang fluktuatif: memisahkan dana kebutuhan pokok dan darurat dari dana investasi, menetapkan batas toleransi kerugian, menyesuaikan pilihan investasi dengan jangka waktu tujuan keuangan, serta melakukan diversifikasi portofolio agar risiko tidak menumpuk pada satu jenis aset.
Biaya Transaksi Sering Terlewat
Perusahaan juga mengingatkan bahwa pada kondisi pasar sideways, akumulasi biaya dari transaksi yang sering dilakukan dapat menggerus hasil investasi. Biaya ini tidak hanya berupa trading fee, tetapi juga mencakup spread, slippage, dan biaya eksekusi lain. Sebagai ilustrasi, transaksi senilai Rp10 juta pada platform dengan trading fee 0% namun spread 1% dapat menimbulkan biaya sekitar Rp100 ribu, sementara kombinasi fee dan spread yang lebih rendah bisa menekan biaya total menjadi sekitar Rp30 ribu. Chief Strategy Officer BTSE Indonesia, Stephanie Kusnadi, menegaskan klaim bebas biaya tidak selalu mencerminkan biaya eksekusi yang paling rendah, sehingga investor perlu mencermati tarif maker-taker, spread live, dan kedalaman order book sebelum bertransaksi.
Kampanye Gebyar Merdeka
Bersamaan dengan pesan tersebut, BTSE Indonesia menggelar kampanye “Gebyar Merdeka” pada 6-28 Agustus 2026 dengan tema deposit dan trading untuk meraih hadiah bertema kemerdekaan. Peserta yang telah menyelesaikan KYC Level 1 dapat memilih satu atau beberapa dari lima misi yang tersedia, mencakup insentif pengguna baru, deposit, referral, volume perdagangan, hingga aktivitas media sosial. Total hadiah kampanye ini bernilai hingga Rp100 juta, termasuk USDT, potongan biaya trading, serta hadiah utama berupa iPhone 17. Syarat kampanye menegaskan dana yang digunakan harus berasal dari dana pribadi, bukan utang atau pinjaman.
“Merdeka finansial bukan berarti selalu menang di pasar, namun artinya kita tetap memegang kendali ketika pasar bergerak berlawanan: dana kebutuhan pokok tetap aman, risiko sudah diperhitungkan, dan setiap biaya dipahami sebelum transaksi dilakukan,” ujar Stephanie Kusnadi.
Sumber: BTSE Indonesia.





