Segenap Pegawai Kementerian PUPR Mengheningkan Cipta Peringati Hari Pahlawan

24

Jakarta – Kegiatan mengheningkan cipta yang digelar secara serentak se-Indonesia pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2017 juga dilaksanakan pada upacara bendera yang bertempat di lapangan Sapta Taruna Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jumat (10/11/2017). Hening cipta berlangsung selama 60 detik dimulai tepat pada pukul 08.15 WIB, yang dipimpin oleh Inspektur Upacara Plt. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Luthfiel Annam Achmad.  Mengheningkan cipta serentak pada pukul 8.15 bertepatan dengan waktu peristiwa heroik terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya.

Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Plt Kepala BPSDM Luthfiel Annam Achmad  mengatakan, bahwa  setelah  kemerdekaan  diraih,  maka tahapan  selanjutnya  yakni harus bersatu  untuk bisa  memasuki  tahapan  bernegara  selanjutnya  yakni  berdaulat, adil dan  makmur.  Oleh  karena  itulah  maka peringatan Hari  Pahlawan  10  November  tahun  2017 ini mengambil  tema “Perkokoh Persatuan  Membangun  Negeri”.

Peristiwa 10 November 1945 memperlihatkan  kepada  dunia  internasional,  betapa segenap  rakyat  Indonesia dari  berbagai  ras, suku,  agama,  budaya dan berbagai  bentuk partikularisme golongan mampu bersama-sama  melebur menjadi  satu untuk berikrar, bergerak  dan menyerahkan  hidupnya  untuk  mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Apabila kita  mampu  bersatu sebagai  satu  bangsa  maka  kita  dapat maju bersama-sama  dan  mendistribusikan  berkah kemerdekaan  bagi  seluruh rakyat Indonesia,” pesannya.

Dalam meraih kemerdekaan, para pahlawan selalu didorong oleh sebuah harapan dan keinginan luhur untuk berkehidupan  kebangsaan  yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Saat  ini harapan  akan  masa  depan  yang  lebih  baik telah ditambatkan  oleh Pemerintahan  Presiden  Joko  Widodo dan  Wakil  Presiden Jusuf  Kalla melalui  sebuah  visi  transformatif  yang  mengarahkan  dan menghimpun  gerak  seluruh  elemen Republik  Indonesia. “Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong.”

Dikatakannya, dalam kerangka mewujudkan visi tersebut terah dirumuskan sembilan agenda prioritas pemerintahan ke depan yang disebut NAWA CITA. Kesembilan agenda prioritas itu bisa dikategorisasikan ke dalam tiga ranah; ranah mental-kultural, ranah material (ekonomi) dan ranah politik. ” Pada ketiga ranah tersebut, Pemerintah saat ini berusaha melakukan berbagai perubahan secara aksereratif, berlandaskan prinsip-prinsip pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” terangnya.

Ketiga ranah pembangunan tersebut menurutnya, bisa dibedakan tapi tak dapat dipisahkan. Satu sama lain saling memerlukan pertautan secara sinergis. Perubahan mental-kultural memerlukan dukungan politik dan material berupa politik kebudayaan dan ekonomi budaya. Sebaliknya perubahan politik memerlukan dukungan budaya dan material berupa budaya demokrasi dan ekonomi politik.

Pada bagian lain dalam sambutannya dikatakan, semangat kebangsaan yang juga dikenang pada Hari  Pahlawan adalah  sebuah nasionalisme  yang dilandasi  oleh kemanusiaan  universal bukan nasionalisme  yang  sempit.  Sebuah  nasionalisme  yang oleh Bung Karno  diikrarkan bahwa “My  Nationalism  is Humanity”.  “Dalam  era kemajuan  global  seperti ini negara-negara  Asla dianggap sebagai  kutub-kutub  baru  kemajuan  peradaban dunia,” ujarnya. Oleh karena itulah menurutnya persatuan Indonesia adalah  sebuah syarat bagi Indonesia untuk menjadi  bagian dari  kekuatan  yang tengah  tumbuh,  the rislng force bersama  dengan  bangsa-bangsa  lain  yang  saat ini menjadl sorotan kemajuan  seperti China,  India dan Korea.

“Pada kesempatan ini juga kami mengajak  kepada  seluruh  lapisan masyarakat  untuk terus  berjuang,  bekerja, berkarya  menjadi pahlawan bagi diri sendiri, pahlawan bagi lingkungan, pahlawan bagi masyarakat maupun pahlawan bagi negeri ini, “ tutupnya.