
Bekasi, 4 Februari 2026– Di bawah terik matahari, gunungan sampah menjulang tinggi bak bukit tak berujung. Bau menusuk hidung, debu berterbaran, lalat berkeremun seakan akan menjadi udara yang dihirup setiap hari. Namun dibalik pemandangan yang bagi sebagian orang merasa tak ada kehidupan yang tetap berdenyut, ada keluarga yang tetap bertahan hidup dan anak anak yang tumbuh serta senyum yang tak pernah padam.
Menurut data yang dilansir dari SIPSN KLHK, tahun 2024 Indonesia menghasilkan 32,85 juta ton sampah pertahun. Sebagian besar sampah tersebut tidak dikelola dengan baik, menumpuk dan mencemari lingkungan. Bantar Gebang menjadi saksi nyata dari masalah ini sekaligus menjadi rumah bagi ribuan jiwa yang menggantungkan hidup dari sisa sisa yang dibuang orang lain.
Bantar Gebang sebuah lokasi yang terdapat di daerah Kota Bekasi yang menjadi tempat terkenal akan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terbesar se-Asia Tenggara. disinilah mereka berlindung dari terik panas dan hujan serta tempat mencari rezeki, berharap esok hari akan sedikit lebih baik dari hari kemarin dan hari ini.
Mata mereka tak lagi jelas melihat, tangan menjadi kasar, hidung terbiasa dengan aroma yang sulit untuk diterima. Namun ditengah keterbatasan mereka tetap bersyukur tidak ada keluhan hanya semangat tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan hidup, setiap botol plastik, setiap lipatan kardus yang dikumpulkan menjadi harapan untuk dapur mereka terus mengepul.
Mereka tidak sedikitpun mengeluh atas apa yang mereka dapatkan. Mereka terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka bertahan hidup dengan mengumpulkan sampah setiap harinya karena dari satu sampah sangat berarti demi mencukupi kebutuhan sehari hari.
Siapa sangka ditengah kerasnya kehidupan, hadir uluran tangan yang membawa Cahaya. Bank Syariah Indonesia hadir sebagai sahabat sosial melalui kolaborasi bersama BSI Maslahat. Mereka memberikan cahaya terang dan memastikan bahwa mimpi mimpi masyarakat Bantar Gebang tetap memiliki ruang untuk bertumbuh.
Melalui program Waste Management warga diajak untuk melihat sampah bukan lagi sebagai barang bekas, melainkan sebagai peluang, masyarakat yang menetap di Bantar Gebang diajak untuk membentuk Koperasi BSI Berkah. Program ini mengajarkan keterampilan mengolah sampah plastik menjadi menjadi sebuah kerajinan yang bernilai jual.
Dari memilah sampah plastik, menyetrika agar lebih mudah dijahit, hingga belajar menggunakan mesin jahit. Dari proses sederhana tersebut lahirlah produk yang fungsional seperti tote bag (tas jinjing) yang bukan hanya berguna, tetapi juga menjadi simbol harapan baru.
Raut wajah mereka kini terlihat berbeda, senyum merekah, tawa pun terdengar lepas, tak ada lagi terdengar keluhan dari mereka.
“seneng rasanya dapat kegiatan ini, lumayan buat ngurangin sampah di rumah saya, sama bisa jadi duit tambahan” ungkap Ibu Syariah (34) salah satu peserta pelatihan yang berucap dengan mata penuh berbinar Bahagia.
Lebih dari sekedar pelatihan keterampilan, program waste management ini bisa menjadi ruang belajar dan sebagai harapan baru bagi masyarakat Bantar Gebang. Mereka sudah mulai melihat peluang untuk meningkatkan pendapatan dengan menjual sampah menjadi barang yang bernilai sehingga memungkinkan mereka untuk membuka usaha berbasis UMKM.
“Akhirnya ada juga program pelatihan kaya gini juga, yang bisa jadi ide usaha jadi gausah dijual semua ke pengepul” ujar Ibu Syai (40) salah satu peserta pelatihan dengan senyum yang tak bisa di sembunyikan.
Di tengah gunungan sampah lahirlah karya, dibalik bau yang menyengat tumbuhlah semangat. Program ini memberikan pelajaran bagi kita semua, agar selalu bersemangat dalam menebarkan kebaikan. Seperti BSI Maslahat yang selalu berkontribusi nyata memberikan maslahat yang berdampak luas untuk bangsa. BSI maslahat telah menunjukan bahwa kebaikan kecil bisa untuk berdampak besar, bahkan di tempat yang dianggap tak layak, harapan tetap bisa untuk dijahit agar masa depan bisa dirajut.







