Kucing Kena Ringworm? Kenali Gejala dan Cara Mengobatinya

Kucing Kena Ringworm? Kenali Gejala dan Cara Mengobatinya
Ilustrasi (AI)

Ringworm merupakan gangguan kulit yang cukup sering ditemui pada kucing. Meski namanya mengandung kata “worm”, kondisi ini tidak disebabkan oleh cacing, melainkan oleh jamur dermatofita, terutama jenis Microsporum canis. Infeksi ini dapat mengubah tampilan kulit dan bulu kucing secara cukup jelas, serta berpotensi menular ke hewan lain maupun manusia yang melakukan kontak langsung.

Penyebab Ringworm pada Kucing

Penularan paling umum terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang sudah terinfeksi. Selain itu, spora jamur juga dapat menempel pada alas tidur, karpet, sofa, kandang, hingga alat grooming, sehingga lingkungan yang terkontaminasi menjadi sumber penularan lain. Kucing dengan daya tahan tubuh kurang optimal, seperti anak kucing atau kucing yang hidup di lingkungan padat, cenderung lebih rentan. Kondisi rumah yang lembap dan kurang bersih juga mendukung spora jamur berkembang lebih lama.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Tanda-tanda Ringworm bisa bervariasi, mulai dari bulu rontok berbentuk melingkar, kulit bersisik dan kemerahan, hingga rasa gatal yang membuat kucing lebih sering menggaruk atau menjilat area tertentu. Bulu yang terkena infeksi juga bisa terlihat kusam dan mudah patah, dengan lesi yang kadang muncul di wajah, telinga, atau kaki. Karena gejala ini bisa menyerupai penyakit kulit lain, pemeriksaan dokter hewan tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis, terutama jika lesi meluas atau kucing terlihat tidak nyaman.

Cara Mengatasi dan Mencegah Penularan

Penanganan Ringworm sebaiknya tidak dilakukan sembarangan. Pemeriksaan dokter hewan dibutuhkan untuk menentukan obat antijamur topikal maupun sistemik yang sesuai dengan tingkat keparahan infeksi, dan terapi harus dituntaskan meski kulit sudah terlihat membaik. Di sisi lain, membersihkan lingkungan rumah secara rutin, mencuci alas tidur, serta memisahkan sementara kucing yang terinfeksi dari hewan lain dapat membantu memutus rantai penularan. Asupan nutrisi yang lengkap dan seimbang, termasuk melalui makanan basah berkualitas, juga dapat mendukung daya tahan tubuh kucing selama masa pemulihan, meski bukan pengganti obat antijamur.

Sumber: Unicharm Pet Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan