
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 2 Bandung mencatat tingginya minat masyarakat terhadap transportasi kereta api jarak jauh sepanjang Triwulan III 2026, yakni periode Juli hingga September. Dari seluruh layanan yang berangkat dari wilayah Daop 2 Bandung, KA Sangkuriang relasi Bandung–Ketapang tercatat sebagai yang paling diminati dengan tingkat okupansi mencapai 240,53 persen.
Tujuh KA dengan Okupansi Tertinggi
Selain KA Sangkuriang, enam kereta lain juga mencatat okupansi tinggi. Berturut-turut adalah KA Malabar relasi Bandung–Malang (183,37 persen), KA Kahuripan relasi Kiaracondong–Blitar (170,80 persen), KA Cikuray relasi Garut–Pasarsenen (161,70 persen), KA Papandayan relasi Garut–Gambir (147,77 persen), KA Argo Wilis relasi Bandung–Surabaya Gubeng (134,57 persen), dan KA Mutiara Selatan relasi Bandung–Surabaya Gubeng (124,90 persen).
Stasiun Gambir, Yogyakarta, Pasarsenen, Bekasi, dan Lempuyangan menjadi tujuan maupun asal favorit bagi penumpang yang berangkat dari atau tiba di wilayah Daop 2 Bandung selama periode tersebut.
Manager Humasda KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, menjelaskan bahwa angka okupansi yang melebihi 100 persen bukan berarti terjadi kelebihan kapasitas tempat duduk. Angka tersebut merupakan akumulasi jumlah penumpang yang naik dan turun di berbagai stasiun sepanjang perjalanan, sehingga satu kursi bisa digunakan oleh lebih dari satu penumpang dalam satu rangkaian perjalanan. Menurutnya, sistem penjualan tiket tetap disesuaikan dengan kapasitas tempat duduk pada setiap segmen perjalanan, sehingga setiap penumpang tetap mendapat tempat duduk sesuai tiketnya.
Kuswardojo mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan jauh-jauh hari, terutama jika ingin menggunakan KA favorit atau bepergian pada periode permintaan tinggi. Tiket kereta jarak jauh dapat dipesan mulai 45 hari sebelum keberangkatan melalui aplikasi Access by KAI, situs booking.kai.id, maupun kanal resmi lainnya, guna menghindari risiko penipuan tiket.
Catatan Redaksi. Perhitungan okupansi di atas 100 persen lazim terjadi pada kereta jarak jauh karena satu rangkaian melayani banyak stasiun pemberhentian, sehingga kursi yang kosong setelah penumpang turun di satu stasiun bisa dijual lagi untuk segmen berikutnya. Ini berbeda dari pesawat yang umumnya mengangkut penumpang dari titik asal ke tujuan akhir tanpa pergantian penumpang di tengah perjalanan, sehingga okupansinya jarang melewati 100 persen.
Sumber: PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 2 Bandung.





