Nano Disinfektan dan Nano Silver FisTx: Hemat Biaya Tambak hingga 87%

Nano Disinfektan dan Nano Silver FisTx: Hemat Biaya Tambak hingga 87%
Ilustrasi (AI)

FisTx Indonesia (PT Aditya Inovasi Makmur), perusahaan teknologi akuakultur asal Sleman, Yogyakarta, memperkenalkan dua produk berbasis nanoteknologi, Nano Disinfektan dan Nano Silver, untuk membantu petambak udang mengendalikan penyakit seperti EHP, AHPND, WSSV, dan White Feces Disease. Perusahaan ini mengklaim menjadi yang pertama di Indonesia yang memproduksi dan menerapkan teknologi nano untuk biosekuriti akuakultur secara komersial.

Udang merupakan penyumbang terbesar ekspor perikanan Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat nilai ekspor udang mencapai sekitar Rp31,5 triliun sepanjang 2025, atau hampir 30 persen dari total ekspor perikanan nasional. Nilai itu rentan terganggu oleh serangan penyakit; sejumlah tinjauan ilmiah menyebut WSSV dapat memicu kematian hingga 100 persen udang dalam hitungan hari, sementara penggunaan antibiotik berisiko meninggalkan gen resistensi di lokasi budi daya dalam jangka panjang.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Dua Lapis Perlindungan: Air dan Pakan

Nano Disinfektan berbahan nano copper ditebar ke air kolam untuk sterilisasi dan mengendalikan bakteri Vibrio, sedangkan Nano Silver dicampurkan ke pakan agar patogen dihadapi langsung di saluran pencernaan udang. FisTx menyebut partikel aktif kedua produk berukuran 4-7 nanometer dan telah diuji di Laboratorium Kimia FMIPA UGM menggunakan Transmission Electron Microscope. Menurut Rico Wisnu Wibisono, CEO FisTx, mekanisme nano ini bekerja dengan menembus dinding sel patogen dan merusak DNA-nya di banyak titik sekaligus, sehingga menurut klaim perusahaan lebih sulit memicu resistensi dibanding antibiotik konvensional.

Dari sisi ekonomi, FisTx memaparkan simulasi di salah satu mitra tambak seluas 23.000 meter persegi, di mana biaya sekali pemakaian Nano Disinfektan diklaim sekitar Rp6,1 juta dibanding Rp48,3 juta untuk kaporit dosis 30 ppm, atau sekitar 87 persen lebih hemat. Perusahaan juga mengutip sejumlah data lapangan dari mitra tambak di Pasuruan, Kulon Progo, Pangandaran, dan Buleleng yang menunjukkan penurunan populasi Vibrio serta perbaikan rasio konversi pakan setelah penggunaan produk tersebut.

FisTx mengklaim produknya kini telah menjangkau lebih dari 1.500 petambak binaan di lebih dari 25 provinsi serta tiga negara, dengan perluasan kemitraan ke Pakistan dan Timur Tengah. “Ini soal membuktikan bahwa Indonesia bisa memproduksi teknologi nano akuakultur kelas dunia dari dalam negeri, dengan validasi ilmiah dan bukti lapangan yang bisa dipertanggungjawabkan,” kata Rico.

Sumber: FisTx Indonesia (PT Aditya Inovasi Makmur).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan