Saat Ini Era Berkompetisi dan Era Bersinergi

175

Indonesian Bankers Club (IBC) sebagai wadah para bankir untuk bertukar pikiran terkait memburuknya kondisi ekonomi Indonesia di tahun 2015-2016. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah anggota IBC mencapai 1700 orang (di group Telegram) dengan variasi bankir, mantan bankir, dan praktisi jasa keuangan.

Di titik ini, cukup banyak institusi yang mengajak IBC untuk bekerjasama seperti Infobank, Lembaga Sertifikasi Profesi Perbankan (LSPP), Kampus-Kampus Perbankan, Perusahaan Financial Technology (dll).  Saat ini, saya sedang fokus menekuni bidang profesi perbankan, network builder dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) berbasis standar kompetensi (family business),” ungkapnya ke Bernas.

Diceritakan pengalaman unik di pekerjaan, di perbankan khususnya di divisi Commercial Credit, ia banyak bertemu langsung dengan pemilik-pemilik perusahaan besar. Alhasil, bisa belajar banyak hal dari mereka tentang bagaimana mereka bisa membangun kerajaan bisnisnya dari nol, mempelajari strategi mereka dalam menghadapi kondisi ekonomi yang sedang lesu, dan banyak ide-ide bisnis yang bisa kita pelajari.

Jika relationship kita dengan nasabah sudah cukup dekat, tidak menutup kemungkinan ke depan kita bisa menjadi rekan bisnis mereka. Menyadari memiliki passion sebagai Network Builder (Pembangun Jaringan) menjadi alasan untuk terus menekuni bidang pekerjaan saat ini. “Melalui bidang perbankan, saya bisa membangun beberapa jaringan sekaligus, yaitu jaringan bankir, mantan bankir (ada yang beralih ke industri lain atau menjadi pengusaha), praktisi jasa keuangan, regulator, dan pelaku industri (pengusaha),” imbuhnya.

Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi dipekerjaan, ia menyebut dalam mengembangkan IBC dengan jumlah member 1.700 orang tentunya sangat tidak mudah karena terdapat 1.700 kepentingan terhadap IBC. ”Karena jaringan anggota IBC sudah terlanjur besar, di mana hal ini menandakan IBC merupakan salah satu wadah yang dicari oleh para bankir, mantan bankir, ataupun praktisi jasa keuangan dalam bertukar pikiran. Maka, saya berinisiatif membentuk IBC sebagai Badan Hukum Asosisasi/ Perkumpulan Profesi dan membentuk Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Pengurus Cabang (DPC) agar IBC dapat berjalan lebih profesional. Untuk tantangan ke depan, ketika bertemu dengan anggota IBC di daerah dan calon mitra ke-3 yang ingin bekerjasama dengan IBC, saya melihat mereka memiliki harapan dan berekspektasi besar terhadap IBC dalam membuat suatu inovasi dan terobosan baru bagi industri jasa keuangan. Semua harapan anggota IBC dan calon mitra IBC tentu menjadi bahan bakar bagi saya pribadi untuk semakin membesarkan IBC secara profesional dan memberikan banyak manfaat bagi anggota ataupun pihak ke-3 yang terlibat dalam kegiatan IBC,” bebernya.

Network builder ini pun meyakini bahwa bidang pekerjaan yang digelutinya penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. “Saya percaya saat ini bukanlah era berkompetisi saja, tapi juga era bersinergi. Melalui IBC, kami bisa mensinergikan kelebihan para anggota untuk menutupi kelemahan anggota lainnya. Bagi masyarakat luas, visi kami ke depan antara lain dapat membantu edukasi perbankan/ jasa keuangan bagi pengusaha Usaha Kecil Menengah (UKM) agar mereka bisa bankable,” katanya.

Berusaha mencari, mendapatkan, atau memberi inspirasi kepada banyak orang menjadi kebiasaan khususnya yang dibangun selama ini untuk mendukung pekerjaannya, misal melalui kegiatan yang dilakukan oleh IBC dari forum diskusi online ataupun tatap muka. Baginya, give and take, dengan memberi, kita tidak akan pernah kekurangan. “Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, sebelum memulai aktivitas, saya selalu melihat kaca dan tersenyum sebahagia mungkin. Saya katakan pada bayangan saya yang ada di kaca bahwa Anda adalah orang yang berhasil (melakukan sugesti kepada diri sendiri) karena saya percaya kebahagiaan, semangat dan aura positif itu menular kepada lingkungan sekitar. Selain itu, saya memiliki sebuah lagu yang bisa membangkitkan semangat saya seperti Champione sambil membayangkan saya ada di atas panggung sedang menerima penghargaan atas prestasi IBC,” paparnya.

Pengagum sosok Thomas Alfa Edison ini membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. “Jangan pernah takut untuk memberi kepada orang lain. Membantu orang lain tidak harus dengan uang, bisa juga dengan tenaga, pemikiran, informasi, peluang usaha, dan lain-lain. IBC terbentuk dengan asas sosial, kita coba membantu sebanyak mungkin anggota kita dengan informasi lowongan pekerjaan yang ada, informasi mengenai nasabah yang sedang membutuhkan kebutuhan perbankan, penjualan asset perbankan, dan banyak hal lainnya yang bisa disinergikan oleh seluruh member IBC. Untuk saran, milikilah impian yang besar, temukan dan bekerjalah dengan passion. Jangan pernah takut memberi kepada orang lain karena kita tidak akan pernah kekurangan dengan memberi,” tukasnya.

Founder Indonesian Bankers Club (IBC) ini membocorkan rencana dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. “IBC sedang memperkuat fondasi kepengurusan. Agar program kerja yang sudah kami buat dapat berjalan di seluruh Indonesia, kami sedang menggalang dana dari seluruh anggota maupun sponsor dalam kegiatan-kegiatan kami di seluruh Indonesia. Kami juga menggandeng beberapa pihak ke-3 seperti Infobank, LSPP, Wallez (perusahaan Aplikasi Payment Gateway) dalam melakukan inovasi terkait kegiatan-kegiatan IBC.

Untuk impian ke depannya, dapat bekerja dengan passion, di mana bekerja itu sudah seperti bermain. Memiliki kebebasan uang, waktu, dan pikiran. Terkait IBC, saya ingin asosiasi ini dalam 5 tahun ke depan dapat membuat suatu perubahan dalam industri jasa keuangan. Salah satu contohnya, kita sedang menciptakan suatu aplikasi di mana bankir dan nasabah yang membutuhkan jasa keuangan dapat dipertemukan seperti (Uber dan Gojek). Dan masih banyak project yang sedang kita kembangkan di tahun 2017,” pungkasnya.