PRICEZA INSIGHT: Peran dan Pengaruh Media Sosial pada Perkembangan e-Commerce di Indonesia

JAKARTA,15 Maret 2018 – E-commerce merupakan industri yang pertumbuhannya sangat pesat dalam beberapa tahun belakangan. Ada banyak faktor yang mendukung fenomena ini. Salah satunya adalah, banyak hal di Indonesia yang masih inefektif dan inefisien, dan justru secara ironis menjadi ‘blessing in disguise’, peluang tersembunyi yang berhasil ditangkap oleh pelaku e-commerce di Indonesia.

Go-Jek dan Grab tidak akan menjadi layanan yang dibutuhkan oleh masyarakat jika sistem transportasi publik sudah mapan dan bisa diandalkan, dan di sanalah mereka membantu memecahkan problem transportasi.

Begitu juga dengan Tokopedia dan Bukalapak contohnya, yang menciptakan disrupsi dengan mempertemukan penjual dan pembeli secara langsung melalui platform mereka, yang membuat bisnis menjadi jauh lebih efektif dan efisien.

Tidak ketinggalan Traveloka, yang merevolusi industri perjalanan dan turisme dengan menawarkan efektifitas dan efisiensi dalam pemesanan tiket.

Contoh-contoh di atas merupakan ilustrasi tentang bagaimana e-commerce telah mempermudah sekaligus merasuk begitu dalam di kehidupan kita. Dan mereka hanyalah lima di antara ribuan perusahaan rintisan (startup) dan e-commerce di Indonesia.

Meskipun memang, kelima perusahaan tersebut telah berstatus ‘unicorn’ – suatu gelar yang diberikan ketika valuasi terhadap perusahaan telah melebihi 1 milyar dollar AS. Mereka tidak akan meraihnya jika e-commerce tidak memiliki basis pasar yang kuat di Indonesia.

Secara umum, basis pasar e-commerce adalah pengguna internet. Keberadaan mereka meningkat seiring penetrasi dan jangkauan internet yang semakin luas. Mengutip studi dari Statista, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai angka sekitar 105 juta. Jumlah ini lebih dari 40% populasi di tahun 2017. Angka tersebut tumbuh secara konsisten dan pesat dibanding tahun 2011, di mana angka penetrasi hanya 18%.

Maka bukan sesuatu yang mengagetkan jika sebagian besar dari pengguna internet tersebut juga merupakan pengguna media sosial. Bahkan bukan sekadar ‘pengguna’, melainkan ‘penggemar’.

Sebagai negara berpopulasi terbanyak ke-empat di dunia, plus penetrasi internet yang meningkat, tidak heran jika Indonesia menjadi lahan atraktif bagi platform media sosial.

Dalam konteks semesta digital, Jakarta bukanlah sekadar ‘ibu kota Indonesia’, tetapi juga ‘ibu kota Twitter’ mengingat betapa aktifnya pengguna Twitter yang berkicau dari kota ini. Namun faktanya, Twitter bukan raja media sosial di Indonesia, berbagai studi masih menobatkan Facebook sebagai media sosial terpopuler.

E-commerce dan Media Sosial

Mengaitkan dua fenomena digital yang dibahas sebelumnya, antara e-commerce dan platform media sosial, dapat menghasilkan wawasan baru yang menarik sekaligus relevan bagi banyak pihak dalam ranah digital.

Sebagaimana diketahui, salah satu poin penting yang menentukan posisi e-commerce di jagad internet adalah lalu-lintas kunjungan (traffic) yang dimilikinya. Semakin tinggi traffic, maka secara umum e-commerce tersebut semakin populer di dunia maya.

Jika dipadankan dengan bisnis konvensional, maka traffic mirip seperti banyaknya orang yang mampir di toko. Tentu semakin banyak pengunjung umumnya diinterpretasikan sebagai sesuatu yang positif.

Mempertimbangkan pentingnya traffic bagi e-commerce dan penggunaan media sosial, maka taktik digital untuk meningkatkan traffic via media sosial menjadi populer dalam beberapa tahun belakangan. Secara sederhana, mekanismenya adalah dengan mereferensikan situs web atau aplikasi di platform media sosial.

Taktik ini terbukti berhasil meningkatkan traffic. Studi oleh Shareaholic di 2015 seperti dikutip dari Forbes, menyebutkan bahwa media sosial merupakan perujuk (referral) nomor satu ke seluruh situs web, termasuk e-commerce.

Sekitar 31% traffic rujukan berasal dari media sosial. Angka ini tentu bergerak dinamis, namun peran signifikan dari media sosial sebagai rujukan akan tetap menjadi poin esensial bagi e-commerce.

Rujukan (Referral) Media Sosial di Indonesia

Berangkat dari premis di atas, menarik untuk mengetahui hubungan traffic pada e-commerce dan rujukan media sosial dalam konteks Indonesia.

Menurut data statistik SimilarWeb yang dikumpulkan sejak bulan Juli 2016 hingga Agustus 2017, ada 9,158 miliar kunjungan ke 10,000 situs belanja online di Indonesia.

Ada enam media sosial yang diangkat dalam studi ini: Facebook, Youtube, WhatsApp, Instagram, Twitter, dan Pinterest. Keenamnya secara rata-rata berkontribusi sebesar 3.40% dalam periode yang sama sebagai perujuk ke situs belanja online. Artinya secara kasar ada sekitar 311 juta kunjungan pada periode Juli 2016 – Agustus 2017 yang bersumber dari rujukan media sosial.

Facebook masih merupakan media sosial yang paling berpengaruh dalam hal rujukan. Hal ini tentu terkait posisinya sebagai media sosial nomor satu di Indonesia. Namun tren Facebook sebagai rujukan traffic cenderung menurun dalam beberapa bulan belakangan, setelah sempat berada di angka 2,56% pada Januari 2017, hingga turun drastis ke 1,51% di Desember 2017.

Tepat di posisi dua, ada Youtube yang angkanya naik-turun dan bertengger di angka 1.40% pada Desember 2017.

Yang paling menarik adalah platform WhatsApp, yang mengalami peningkatan konsisten dan signifikan. Hanya butuh waktu satu tahun bagi WhatsApp (dari 0% di Desember 2016) untuk bisa menduduki posisi ketiga perujuk media sosial tersignifikan. Persentase WhatsApp meningkat dari Januari 2017 di angkat 0,08% menjadi 0.24% di Desember 2017, dengan pertumbuhan tiga kali lipat.

Kesimpulan dan Implikasi Praktis

Lantas apa yang bisa dipetik dari angka-angka ini? Pertama, Facebook bersama Youtube masih akan menjadi platform utama dalam hal rujukan media sosial yang mendorong traffic ke situs belanja. Kontribusi keduanya masih terlalu signifikan untuk disaingi media lain.

Kedua, WhatsApp selain berfungsi sebagai platform berkirim-pesan, juga berperan sebagai media sosial yang mulai populer sebagai rujukan dalam beberapa bulan belakangan, dan perannya akan terus meningkat. Tiga platform ini diprediksi menjadi platform yang mendominasi di 2018 dalam hal rujukan media sosial.

Kontribusi rujukan 6 media sosial pilihan sebagai sumber traffic terhadap 10,000 situs belanja di Indonesia (3.35%) selama 18 bulan terakhir masih sangat jauh dari kata efektif jika dibandingkan dengan rujukan media sosial terhadap situs web secara global (31%) di tahun 2015.

Namun begitu, hal ini selayaknya dilihat sebagai sebuah peluang emas. Bahwa masih ada ruang begitu besar untuk meningkatkan traffic dengan taktik rujukan media sosial.

Tentang Priceza

Priceza adalah mesin pencari belanja (shopping search engine) dan platform pembanding harga (price comparison) yang berdiri sejak tahun 2010 (di Thailand). Priceza Indonesia berdiri pada tahun 2013 dengan jumlah kunjungan hampir 4,5 juta pengguna setiap bulannya.

Selain di Thailand dan Indonesia, Priceza juga beroperasi di 4 (empat) negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Malaysia, Singapura, Filipina dan Vietnam. Priceza membantu jutaan pembelanja online dalam mengakses informasi untuk membuat keputusan belanja yang cerdas, dan menghubungkan ribuan toko online dengan pembelinya.