Jakarta Fashion Week 2027: Beskap Jawa Bertemu Gaya Barat 1920-an

Jakarta Fashion Week 2027: Beskap Jawa Bertemu Gaya Barat 1920-an
Ilustrasi (AI)

Seorang mahasiswa Fashion Program dari School of Design BINUS University, Alifa Muthmainnah, mendapat kesempatan menampilkan karyanya di Jakarta Fashion Week 2027 setelah masuk sebagai finalis Lomba Perancang Mode Menswear (LPMM). Ia membawa koleksi bertajuk “An Odd One Out of Time” yang mengangkat pertemuan dua identitas budaya dalam satu rancangan busana pria.

Memadukan Beskap Jawa dan Gaya Elite Barat

Koleksi ini terinspirasi dari masa kolonial, saat busana kerap merepresentasikan identitas, maskulinitas, dan kedudukan sosial seseorang. Alifa mempertemukan teknik jahitan beskap Jawa dengan elemen busana Barat era 1920-an seperti blazer dan seragam yang pada masanya identik dengan kalangan elite. Perpaduan ini diolah lewat teknik rekonstruksi pola sehingga menghasilkan rancangan hibrida dengan konstruksi melingkar, desain lengan fleksibel, permainan lapisan busana, hingga detail yang bisa dilepas-pasang.

Bacaan Lainnya

Dari sisi material, koleksi ini menggabungkan wol, kulit, katun, denim, dan korduroi untuk menyeimbangkan struktur busana yang tegas dengan siluet yang lebih lembut dan dinamis. Alifa menyebut rancangannya sebagai upaya menunjukkan bahwa warisan budaya bisa terus berkembang melalui desain modern tanpa kehilangan identitas aslinya.

Apresiasi dari Kampus

Ratna Dewi Paramita, Head of Fashion Program BINUS University, menyampaikan apresiasi atas pencapaian Alifa yang dinilai mampu mengolah sejarah, budaya, dan identitas menjadi karya yang relevan dengan industri. Ia berharap pencapaian ini dapat memacu mahasiswa lain untuk berani bereksplorasi dan menunjukkan karya mereka ke publik maupun pelaku industri fashion.

Catatan Redaksi. Beskap adalah jas tertutup khas Jawa tanpa kerah lipat dengan potongan depan asimetris, biasa dikenakan pria dalam acara adat atau resmi sebagai simbol kesopanan dan status. Sementara itu, busana Barat 1920-an identik dengan blazer dan seragam berpotongan tegas yang kala itu melambangkan kelas elite pasca Perang Dunia I. Teknik rekonstruksi pola yang disebut dalam koleksi ini berarti membongkar pola jahitan asli dari kedua gaya tersebut, lalu menyusunnya ulang menjadi bentuk baru yang tetap mempertahankan ciri masing-masing.

Sumber: BINUS University.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan