RI Punya 3.600 Ton Emas, BI Baru Simpan 87 Ton

RI Punya 3.600 Ton Emas, BI Baru Simpan 87 Ton
Ilustrasi (AI)

Indonesia tercatat memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dan menempati posisi keempat dunia sebagai negara dengan cadangan terbesar. Meski begitu, jumlah emas yang benar-benar tercatat sebagai cadangan moneter Bank Indonesia (BI) baru mencapai 87,1 ton, atau sekitar 7,7% dari total potensi yang dimiliki negara.

Dengan porsi tersebut, Indonesia hanya berada di peringkat ke-44 dunia untuk kategori cadangan emas bank sentral, jauh di bawah Amerika Serikat (8.133,5 ton), Jerman (3.349,5 ton), Italia (2.451,8 ton), Prancis (2.437 ton), dan China (2.346,4 ton). Bahkan dibandingkan negara tetangga seperti Singapura (194 ton) dan Thailand (234 ton), posisi cadangan emas bank sentral RI masih tertinggal.

Bacaan Lainnya

Strategi BI Dinilai Lebih Berorientasi ke Dolar

Chairman Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandy Arif mempertanyakan kecilnya porsi emas dalam cadangan BI, mengingat besarnya potensi kekayaan emas nasional. Menurutnya, selama ini strategi BI lebih berorientasi pada cadangan valuta asing, khususnya dolar Amerika Serikat, karena dinilai lebih likuid untuk kebutuhan intervensi pasar. Ia juga menyoroti bahwa cadangan devisa nasional yang saat ini berkisar US$146 miliar atau setara 5,5 bulan impor turut membatasi ruang bagi BI untuk memperbesar kepemilikan emas.

Irwandy menilai strategi tersebut perlu ditinjau ulang di tengah tren global bank sentral, seperti China, Rusia, India, Turki, dan Polandia, yang terus menambah cadangan emas sebagai bagian dari diversifikasi di tengah risiko geopolitik dan upaya dedolarisasi. Ia mengusulkan agar BI mulai menyerap sebagian produksi emas dalam negeri, misalnya dengan skema pembelian sekitar 20 ton emas setiap kali produksi nasional mencapai 100 ton.

Dari sisi kapasitas industri, ekosistem pemurnian emas nasional dinilai cukup memadai untuk mendukung skema tersebut. PT Antam Tbk di bawah Grup MIND ID memiliki fasilitas pemurnian berkapasitas 150 ton per tahun, sementara Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia mampu memurnikan hingga 50 ton per tahun. Di sektor swasta, smelter PT Amman Mineral Internasional Tbk memiliki kapasitas pengolahan 18 ton per tahun, didukung potensi produksi bijih dari sejumlah perusahaan tambang lain seperti J Resources, Merdeka Copper Gold, Archi Indonesia, Agincourt Resources, dan Bumi Resources Minerals.

Catatan Redaksi. Cadangan devisa bank sentral umumnya dijaga dalam bentuk yang mudah dicairkan cepat untuk intervensi kurs atau pembayaran impor, dan dolar AS masih jadi pilihan utama karena pasarnya paling likuid di dunia. Emas memang dianggap aman secara nilai jangka panjang, tetapi harganya lebih fluktuatif dan tidak semudah dolar dicairkan mendadak, sehingga banyak bank sentral menjaga rasionya tetap kecil meski punya cadangan tambang besar di dalam negeri.

Sumber: MIND ID.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan