
Permintaan nikel dunia diproyeksikan terus naik dalam lima tahun ke depan, membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperdalam industri pengolahan di dalam negeri. Berdasarkan proyeksi Shanghai Metals Market (SMM), permintaan nikel global akan tumbuh 21,39 persen, dari 3.717 kiloton (Kt Ni) pada 2026 menjadi 4.512 Kt Ni pada 2031, dengan sektor baterai kendaraan listrik dan baja nirkarat sebagai penggerak utama.
Didorong Garap Produk Akhir
Direktur INDEF Green Transition Initiative Imaduddin Abdullah menilai lonjakan permintaan ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat struktur industri domestik, bukan berhenti pada produk setengah jadi. Menurutnya, semakin kompleks produk yang dihasilkan, semakin besar pula keterlibatan rantai pasok lokal dan dampak ekonominya. Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA) Rachmat Makkasau, yang menekankan bahwa nilai tambah tertinggi berada di sektor hilir sehingga peningkatan kapasitas produksi perlu dijalankan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Baca juga:
- Peluang Saham Batu Bara Pada 2026 di Tengah Tekanan Permintaan Hingga Kebijakan Pemerintah
- Peluang Saham Batu Bara Pada 2026 di Tengah Tekanan Permintaan Hingga Kebijakan Pemerintah
Proyek Hilirisasi Berjalan
Langkah nyata hilirisasi sudah dijalankan Grup MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Bersama konsorsium CATL-Brunp-Lygend lewat PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), IBC membangun pabrik baterai di Karawang dengan kapasitas awal 6,9 GWh dan target ekspansi hingga 15 GWh. Ekosistem baterai kendaraan listrik ini juga diperkuat proyek di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang memproduksi material baterai berbasis nikel, aluminium elektrolit, hingga alat berat listrik secara terintegrasi.
Kaji Moratorium Smelter
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah sedang mengkaji kebijakan moratorium bagi smelter yang hanya menghasilkan produk antara. Langkah ini diambil untuk mengendalikan ancaman oversupply nikel dunia yang diperkirakan mencapai sekitar 2,5 juta ton, sekaligus mendorong industri menghasilkan produk akhir dengan nilai tambah penuh di dalam negeri.
Catatan Redaksi. Oversupply nikel terjadi ketika pasokan dari banyak smelter pengolahan bijih melebihi kebutuhan industri, yang biasanya menekan harga di pasar global. Moratorium yang dikaji pemerintah ditujukan pada smelter yang hanya menghasilkan produk antara seperti feronikel atau nickel pig iron, bukan pada industri yang mengolahnya lebih jauh menjadi katoda atau komponen baterai, sehingga kapasitas produksi diarahkan ke produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Sumber: MIND ID.





