
Harga Bitcoin bergerak di kisaran US$80.000 setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27-28 Oktober 2026. Suku bunga ditahan di kisaran 3,75 persen hingga 4 persen melalui pemungutan suara 10 banding 2, dengan dua pejabat The Fed berbeda pendapat dan menginginkan kenaikan 25 basis poin.
Dalam pernyataan resminya, The Fed menilai aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih tumbuh kuat, sementara inflasi tetap berada pada tingkat tinggi. Bank sentral menekankan perlunya data tambahan sebelum menentukan arah kebijakan selanjutnya guna mengembalikan inflasi ke target 2 persen. Bittime, Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai keputusan ini tidak serta-merta menghilangkan ketidakpastian di pasar keuangan maupun aset kripto.
Baca juga:
- Bitcoin Bertahan US$84.000 meski CLARITY Act Gagal di Senat AS
- Bitcoin Balik ke US$81.000 Usai Anjlok ke US$76.000, Lanjut Naik?
Bitcoin dan Ethereum Melemah
Berdasarkan data CoinMarketCap pada 29 Oktober 2026, Bitcoin melemah 1,71 persen dalam 24 jam dan 2,38 persen dalam sepekan, sempat menyentuh level US$79.800. Ethereum tercatat di kisaran US$2.300, turun 2,51 persen harian dan 5,91 persen dalam sepekan. Sejumlah altcoin seperti Hyperliquid (HYPE) juga ikut melemah, diperdagangkan di sekitar US$78,45 atau turun 3,92 persen dalam sehari.
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan keputusan suku bunga perlu dibaca bersama sinyal The Fed mengenai prospek inflasi dan ekonomi. “Investor masih perlu mencermati bagaimana inflasi berkembang dan bagaimana The Fed merespons data ekonomi berikutnya. Perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi selera risiko investor, termasuk terhadap aset kripto,” ujarnya.
Peluang dan Risiko di Fitur Futures
Bittime menyediakan layanan Bittime Futures yang memungkinkan pengguna mengambil posisi long maupun short, dengan leverage hingga 25 kali serta pilihan cross margin atau isolated margin. Namun, Ryan mengingatkan bahwa penggunaan leverage juga meningkatkan risiko, karena pergerakan harga yang berlawanan dengan posisi dapat memicu kerugian signifikan hingga likuidasi apabila persyaratan margin tidak terpenuhi. “Leverage bukan jaminan keuntungan. Trader perlu memahami potensi kerugian, menetapkan batas risiko, dan menggunakan fitur yang tersedia secara bijak sesuai kemampuan finansial serta toleransi risiko masing-masing,” tutupnya.
Sumber: Bittime.





