
PT Akarsa Garment Indonesia mengumumkan optimalisasi kapasitas manufakturnya seiring tren pemulihan industri tekstil dan pakaian jadi nasional. Permintaan seragam kerja, pakaian institusi, dan produk fesyen berskala besar (B2B) tercatat kembali meningkat, didorong kebutuhan dari instansi pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, hingga lembaga pendidikan.
Model Produksi Terintegrasi
Perusahaan ini menerapkan pendekatan produksi satu pintu yang mencakup proses pemotongan kain, penjahitan, hingga tahap akhir (finishing) dalam satu jalur, dengan penerapan kontrol kualitas yang ketat. Pendekatan ini ditujukan untuk melayani kebutuhan sandang berskala institusional, termasuk seragam dinas yang harus mengikuti spesifikasi material dan jahitan sesuai regulasi, serta seragam sekolah yang permintaannya melonjak setiap menjelang tahun ajaran baru.
Baca juga:
Selain segmen institusi, perusahaan juga menyasar kebutuhan pakaian kerja eksekutif dan seragam kantor yang lebih premium, dengan memadukan keahlian penjahitan gaya butik dan kapasitas produksi massal.
Dukungan untuk Pelaku Usaha Fesyen Lokal
Di luar pengadaan B2B, PT Akarsa Garment Indonesia turut mendampingi pelaku UMKM dan pemilik merek fesyen lokal yang kerap menghadapi kendala dalam memilih mitra produksi. Perusahaan menyebut pentingnya pemahaman soal perbedaan skala vendor jahit, mulai dari penjahit rumahan, konveksi menengah, hingga pabrik garmen terintegrasi, agar pelaku usaha dapat menyesuaikan pilihan vendor dengan kebutuhan produksi, baik untuk sampel maupun produksi massal.
Berbasis di kawasan Jabodetabek dengan akses logistik yang strategis, perusahaan menyatakan siap melayani korporasi di area ibu kota maupun perusahaan multinasional yang membutuhkan seragam kerja lapangan dan produk safety wear dalam jumlah besar.
Sumber: PT Akarsa Garment Indonesia.





