PTPP Tangani 31 Titik Longsoran di Sumut, Lampaui Target

PTPP Tangani 31 Titik Longsoran di Sumut, Lampaui Target
Ilustrasi (AI)

PT PP (Persero) Tbk (PTPP) terus melanjutkan pekerjaan tanggap darurat pemulihan infrastruktur jalan di Sumatera Utara yang rusak akibat bencana alam. Proyek ini merupakan bagian dari program Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU) yang mencakup ruas Batas Aceh–Kota Sibolga dan Rampa–Poriaha/Mungkur, dengan nilai kontrak sebesar Rp268,66 miliar.

Pekerjaan difokuskan pada penanganan 31 titik longsoran yang tersebar di sepanjang 131 kilometer jalur jalan tersebut. Berdasarkan data terbaru, realisasi pekerjaan telah mencapai 70,83 persen, lebih cepat dibandingkan target rencana yang ditetapkan sebesar 68,42 persen.

Bacaan Lainnya

Teknologi Survei dan Metode Konstruksi

Dalam pelaksanaannya, PTPP menerapkan teknologi survei dan pemetaan seperti Light Detection and Ranging (LiDAR), batimetri, dan fotogrametri untuk memetakan kondisi lapangan secara akurat. Sebagai alternatif dinding penahan tanah, perusahaan juga menggunakan box concrete yang disesuaikan dengan karakteristik lokasi masing-masing titik longsoran. Proyek ini dijalankan dengan skema kontrak Design and Build, di mana proses perencanaan dan konstruksi berjalan dalam satu lingkup pekerjaan yang terintegrasi.

Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo, mengatakan penanganan infrastruktur pascabencana membutuhkan perencanaan matang dan metode konstruksi yang sesuai kondisi lapangan. Menurutnya, pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan konektivitas jalan sekaligus menjaga keselamatan kerja dan kualitas hasil pekerjaan.

Dengan pemulihan ruas jalan ini, PTPP berharap mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di wilayah terdampak bencana di Sumatera Utara dapat kembali berjalan normal.

Catatan Redaksi. LiDAR dan fotogrametri memungkinkan pemetaan kontur serta tingkat kemiringan lereng secara presisi dari udara, sehingga titik rawan longsor bisa dipantau tanpa survei manual di lapangan yang berbahaya. Skema design and build menggabungkan perencana dan kontraktor dalam satu kontrak, sehingga desain penanganan longsoran bisa disesuaikan langsung begitu kondisi lapangan berubah, berbeda dari metode konvensional yang memisahkan tahap desain dan pembangunan.

Sumber: PT PP (Persero) Tbk.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan