PAM JAYA dan Arief Nasrudin Wakili Indonesia di Forum PBB 2026

PAM JAYA dan Arief Nasrudin Wakili Indonesia di Forum PBB 2026
Ilustrasi (AI)

Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, tampil sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia yang diundang untuk memaparkan perspektif pengelolaan air minum perpipaan dalam Private CEO Roundtable di New York, Amerika Serikat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Sidang Umum PBB ke-81 dan diselenggarakan atas undangan Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab.

Forum yang mempertemukan para CEO dan pemimpin bisnis global tersebut membahas isu strategis seputar investasi air sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi, kesehatan, lingkungan, ketahanan pangan, hingga pembangunan infrastruktur masa depan. Arief menempatkan pengalaman Jakarta dalam mengelola layanan air perkotaan sebagai bagian dari diskusi tersebut.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Target Layanan dan Kebutuhan Investasi

PAM JAYA menargetkan cakupan layanan air minum perpipaan mencapai 100 persen pada 2029, dengan pengembangan kapasitas produksi hingga 32.950 liter per detik serta perluasan jaringan pipa sepanjang 16.234 kilometer. Perluasan ini juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah, menekan penurunan permukaan tanah, dan memperkuat ketahanan Jakarta terhadap perubahan iklim.

Revitalisasi jaringan pipa yang sebagian besar sudah berusia lebih dari dua dekade juga menjadi perhatian, mengingat upaya menekan kehilangan air atau non-revenue water (NRW) membutuhkan dukungan investasi dari mitra strategis. Dalam forum di New York, PAM JAYA turut melakukan penjajakan awal terkait creative financing sebagai alternatif pendekatan pembiayaan infrastruktur air.

Selain pembiayaan, PAM JAYA membuka peluang penjajakan di sektor water cooling untuk kebutuhan pusat data, seiring berkembangnya industri berbasis teknologi digital di Jakarta. Transformasi layanan melalui teknologi seperti smart water meter, integrated billing system, dan enterprise resource planning (ERP) juga menjadi bagian dari upaya PAM JAYA meningkatkan efisiensi dan akurasi data.

“Air bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi merupakan fondasi bagi kehidupan, kesehatan, lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Arief dalam forum tersebut.

Catatan Redaksi. Non-revenue water (NRW) adalah volume air yang sudah diproduksi tapi tidak menghasilkan pendapatan, akibat kebocoran pipa, pencurian, atau kesalahan pencatatan meter, sehingga menjadi indikator penting efisiensi perusahaan air minum. Sementara itu, water cooling untuk pusat data memanfaatkan sirkulasi air sebagai pendingin server, kebutuhan yang terus naik seiring bertambahnya pusat data di kota besar seperti Jakarta.

Sumber: PAM JAYA.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan