
PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) menggandeng Yayasan Baitul Maal BRILiaN (YBM BRILiaN) untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi. Bantuan ini disalurkan melalui program bertajuk “BRIF Sehati – Tanggap Bencana Gempa NTT” sebagai bagian dari upaya mendukung proses pemulihan di daerah terdampak.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan kolaborasi dengan YBM BRILiaN memungkinkan bantuan tersalurkan tepat kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama pada masa pemulihan pascabencana.
Baca juga:
- BRI Finance Gandeng YBM BRILiaN Bantu Korban Gempa NTT 2026
- BRI Finance dan YBM BRILiaN Bantu Korban Gempa NTT 2026
Dampak Gempa M7,7 di NTT
Gempa berkekuatan M7,7 mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 dini hari, dengan episentrum di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo pada kedalaman 15 kilometer. BMKG menjelaskan gempa ini merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar naik pada struktur Flores Back-arc Thrust, dan sempat memicu peringatan dini tsunami sebelum dicabut pada hari yang sama.
Berdasarkan data BNPB per 7 September 2026, dari 102.384 unit rumah yang menjadi sasaran pendataan awal di tujuh kabupaten terdampak, sebanyak 51.591 unit telah diverifikasi. Rinciannya, 2.382 unit rusak berat, 7.276 unit rusak sedang, dan 14.177 unit rusak ringan, dengan catatan data masih dapat berubah seiring proses verifikasi lapangan.
BNPB sebelumnya juga menekankan pentingnya kolaborasi antarmitra dalam memetakan kebutuhan korban, termasuk melalui joint needs assessment di Kabupaten Sikka, agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi riil di lapangan. BRI Finance menyampaikan harapan agar dukungan dari berbagai pihak terus berlanjut sehingga masyarakat NTT dapat kembali beraktivitas dan membangun kehidupan secara bertahap.
Catatan Redaksi. Sesar naik terjadi saat satu lempengan batuan terdorong naik di atas lempengan lain akibat tekanan horizontal, berbeda dari sesar geser yang bergerak mendatar. Flores Back-arc Thrust sendiri adalah jalur sesar aktif di laut utara Flores yang memang dikenal rawan memicu gempa dangkal, sehingga potensi tsunami langsung diwaspadai meski peringatannya kemudian dicabut setelah pemantauan tidak menunjukkan ancaman gelombang besar.
Sumber: PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance).





