Gempa Flores NTT: BRIDS Salurkan Bantuan Rp50 Juta ke Nagekeo

Gempa Flores NTT: BRIDS Salurkan Bantuan Rp50 Juta ke Nagekeo
Ilustrasi (AI)

PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyalurkan bantuan tanggap darurat bagi korban gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Bantuan disalurkan melalui sinergi dengan Yayasan Baitul Maal BRILiaN (YBM BRILiaN) menyusul hasil asesmen lapangan di Kabupaten Nagekeo, salah satu wilayah terdampak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 5.000 jiwa sempat mengungsi pada fase awal bencana dan 47 orang meninggal dunia. Hingga 7 September 2026, verifikasi mencakup 51.591 dari 102.384 unit rumah di tujuh kabupaten terdampak, dengan rincian 2.382 rumah rusak berat, 7.276 rusak sedang, dan 14.177 rusak ringan. Ribuan gempa susulan, termasuk yang mencapai magnitudo 6,2, membuat sebagian warga Pulau Flores masih bertahan di tenda pengungsian.

Bacaan Lainnya

Fokus pada Kebutuhan Dasar

Berdasarkan asesmen di lapangan, kebutuhan mendesak masyarakat Nagekeo meliputi dukungan pangan, dapur darurat, serta peralatan untuk penyediaan makanan selama masa tanggap darurat. Merespons hal itu, BRIDS melalui YBM BRILiaN mengalokasikan dana sebesar Rp50 juta untuk pengadaan 100 paket sembako, operasional dapur darurat, serta distribusi bantuan. Dukungan ini diperkirakan dirasakan oleh lebih dari 200 jiwa, mulai dari siswa, warga terdampak, hingga penghuni pengungsian.

Plt. Direktur Utama BRIDS, Fifi Virgantria, menyampaikan bahwa penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan menghadirkan kontribusi sosial yang sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan. Ia menegaskan pemenuhan kebutuhan dasar menjadi hal penting agar masyarakat dapat melewati masa tanggap darurat dan memulai proses pemulihan.

Bantuan ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRIDS melalui inisiatif BRIDS Peduli, yang diarahkan untuk memberikan kontribusi sosial berkelanjutan sesuai kondisi di lapangan.

Catatan Redaksi. Magnitudo 7,7 tergolong gempa besar yang berpotensi merusak luas, sementara gempa susulan magnitudo 6,2 masih cukup kuat untuk merobohkan bangunan yang sudah retak akibat guncangan utama. Klasifikasi rusak berat, sedang, dan ringan dalam asesmen BNPB biasanya mengacu pada tingkat kerusakan struktur bangunan, mulai dari yang tak lagi layak huni hingga yang masih bisa ditempati dengan perbaikan kecil, dan menjadi dasar penentuan jenis bantuan yang disalurkan.

Sumber: PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan