
Tokyo, 9 April 2026 — Industri musik Jepang kembali diramaikan dengan karya terbaru dari grup pop-rock Ryokuoushoku Shakai yang resmi merilis lagu berjudul Shirushi pada 9 April 2026. Lagu ini hadir sebagai bagian dari proyek kolaborasi dengan dunia pertelevisian, sekaligus mempertegas posisi band tersebut sebagai salah satu kekuatan utama di kancah musik modern Jepang.
“Shirushi” ditulis khusus sebagai lagu tema untuk drama televisi Jepang A Moonlight Nights Passing yang mulai tayang bulan ini. Dengan nuansa emosional yang kuat, lagu ini menggali tema yang dekat dengan kehidupan banyak orang, yakni bagaimana individu sering kali kehilangan arah dan identitas diri seiring bertambahnya usia dan tanggung jawab.
Komposisi lagu ini digarap oleh bassist band, Shingo Anami, sementara proses aransemen dipercayakan kepada produser musik ternama ha-j. Keduanya menghadirkan perpaduan melodi yang lembut namun penuh makna, sejalan dengan pesan yang ingin disampaikan.
Secara tematik, “Shirushi” berbicara tentang perjalanan menuju kedewasaan yang kerap membuat seseorang hidup untuk orang lain—baik dalam pekerjaan maupun keluarga—hingga tanpa sadar melupakan diri sendiri. Lagu ini mencoba mengajak pendengar untuk kembali menemukan “cerita pribadi” yang mungkin telah hilang di tengah rutinitas. Pesannya sederhana, namun kuat: keberanian untuk hidup bebas dan jujur, mengikuti kata hati, seperti seorang anak kecil yang belum terikat oleh tuntutan dunia.
Vokalis sekaligus penulis lirik, Haruko Nagaya, mengungkapkan bahwa proses penulisan lagu ini sangat personal baginya. Ia merasa terhubung dengan cerita drama yang diadaptasi, hingga berulang kali merasakan pemahaman mendalam terhadap konflik yang diangkat.
“Seiring kita menjadi dewasa, peran kita bertambah—di tempat kerja, dalam keluarga—dan di tengah perjalanan itu, kita mulai kehilangan diri sendiri. Saat membaca cerita aslinya dan naskahnya, saya terus berpikir, ‘Saya sangat memahami ini.’ Usia seharusnya tidak menjadi batasan. Saya berharap lagu ini bisa menjadi kesempatan bagi orang-orang untuk kembali menempatkan diri mereka sebagai prioritas,” ujarnya.
Perjalanan Panjang Menuju Puncak
Ryokuoushoku Shakai, yang juga dikenal dengan julukan “Ryokushaka,” merupakan band beranggotakan empat orang yang terbentuk pada 2012. Grup ini berawal dari pertemanan masa sekolah antara Nagaya (vokal), Kobayashi (gitar), dan peppe (keyboard), sebelum kemudian bergabungnya Anami (bass), sahabat masa kecil Kobayashi.
Sejak debutnya, band ini konsisten melahirkan lagu-lagu populer. Beberapa di antaranya bahkan mencatatkan pencapaian luar biasa di platform streaming, seperti “Mela!” (2020) yang menembus lebih dari 400 juta stream, “Be a flower” (2023) dengan lebih dari 200 juta stream, serta “Character” (2022) dan “Summer Time Cinderella” (2023) yang masing-masing melampaui 100 juta stream.
Kesuksesan mereka tidak hanya terbatas pada ranah digital. Pada 2022, Ryokuoushoku Shakai berhasil menggelar konser tunggal perdana di Nippon Budokan, salah satu venue paling prestisius di Tokyo dengan kapasitas sekitar 10.000 penonton. Momentum ini dilanjutkan dengan tur arena yang sukses pada 2023 dan 2024.
Tak hanya itu, mereka juga tampil dalam acara musik tahunan bergengsi Kohaku Uta Gassen selama tiga tahun berturut-turut (2022–2024). Pada 2023, mereka meraih penghargaan Excellent Work Award dalam ajang Japan Record Awards ke-65 berkat lagu “Summer Time Cinderella.”
Ciri Khas dan Ekspansi Global
Salah satu kekuatan utama Ryokuoushoku Shakai terletak pada proses kreatif mereka. Seluruh anggota band terlibat dalam penciptaan lagu, menghasilkan warna musik yang beragam namun tetap memiliki identitas yang kuat. Suara vokal Nagaya yang jernih namun bertenaga menjadi elemen penting yang memperkaya karakter musik mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, band ini juga активно memperluas jangkauan internasionalnya. Tur Asia 2025 yang mencakup kota-kota besar seperti Seoul, Taipei, Shanghai, hingga Jakarta dan Singapura menjadi bukti bahwa popularitas mereka tidak lagi terbatas di Jepang.
Dengan dirilisnya “Shirushi,” Ryokuoushoku Shakai kembali menunjukkan kemampuannya dalam mengangkat tema universal menjadi karya yang relevan dan menyentuh. Lagu ini tidak hanya menjadi pelengkap drama televisi, tetapi juga refleksi bagi banyak orang yang tengah mencari kembali makna diri di tengah kompleksitas kehidupan modern.



