BSI Maslahat Bekali Dhuafa dengan Keterampilan Barber untuk  Menumbuhkan Kemandirian Ekonomi

doc. BSI Maslahat

Jakarta, 11 Februari 2026 – BSI Maslahat menggelar pelatihan keterampilan usaha barber  yang diperuntukkan bagi dhuafa, agar mereka punya keterampilan untukbertahan di tengah  himpitan ekonomi yang terasa semakin mencekik. Kegiatan ini berjalan melalui Program  Maslahat University. Sebanyak sembilan orang peserta mengikuti pelatihan di Captain  Barbershop Academy yang berlangsung sejak 12 Januari hingga 4 Februari 2026 tepatnya  17 kali pertemuan. 

Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, banyak mimpi tetap terjaga. Jakarta memberi  peluang, namun juga menyimpan kompetisi yang menyesakkan. Katanya, Jakarta hanya bagi  orang-orang yang tahan banting. Sebagian orang bekerja serabutan, lalu pulang membawa  cemas yang sama. Sebagian lainnya memeluk harap, sambil menunggu kabar panggilan  kerja yang tak pasti. 

Read More

Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mencatat pengangguran naik pada akhir 2025. Tingkat  Pengangguran Terbuka (TPT) Jakarta pada November 2025 mencapai 6,31 persen. Angka  tersebut setara dengan sekitar 349 ribu orang yang masih menganggur. Data itu berbicara  tentang banyak ruang yang belum terbuka untuk menyerap angka pengangguran. Di ruang  tersebutlah, keterampilan menjadi sandaran baru bagi dhuafa. BSI Maslahat menghadirkan  program pelatihan keterampilan usaha barber bagi dhuafa. 

Pelatihan barber dipilih karena dekat dengan kebutuhan harian warga kota. Jasa pangkas  rambut tetap dicari, bahkan saat ekonomi melambat. Pelanggan datang membawa urusan  sederhana, yaitu ingin tampil rapi. Namun dari urusan sederhana, bisa memberikan dampak  bagi satu keluarga. 

BSI Maslahat merancang pelatihan dengan pendekatan praktik yang intensif. Peserta belajar  teknik dasar barber sejak pertemuan pertama. Instruktur mengajarkan cara memakai alat  dengan aman dan profesional. Peserta juga belajar merawat peralatan agar tetap higienis. 

Materi disusun agar peserta siap melayani pelanggan dengan standar. Peserta mempelajari  SOP pelayanan yang ramah dan profesional. Mereka melatih komunikasi agar pelanggan  merasa dihargai. Mereka juga belajar membaca bentuk kepala dan karakter rambut.  

Pada tahap awal, peserta berlatih menggunakan manekin. Mereka mengulang gerakan  sampai tangan tidak lagi kaku. Setelah cukup stabil, dan semakin luwes peserta beralih pada  model manusia dengan rambut asli. Mereka berhadapan dengan rasa gugup dan tekanan  waktu. Mereka belajar menakar kecepatan, tanpa kehilangan kerapian hasil. Mereka berlatih  menyelesaikan potongan dengan finishing yang bersih.  

BSI Maslahat mempersiapkan ketrampilan peserta agar siap masuk dunia kerja. Harapannya  para peserta dapat bekerja sebagai barber pemula di barbershop. Peserta juga dapat memulai  jasa rumahan di lingkungan sekitar. Mereka bisa membangun pelanggan dari tetangga dan  rekomendasi teman.

Salah satu peserta pelatihan, Nardi (36) merupakan seorang ayah dari lima anak yang sehari hari bekerja sebagai pengemudi ojek online. Selain itu, ia juga mengambil pekerjaan sebagai  buruh serabutan ketika ada kesempatan. Ia mengikuti pelatihan ini dengan harapan  sederhana memperoleh keterampilan yang dapat meningkatkan stabilitas penghasilan  keluarganya.

“Sekarang ini, ekonomi tidak menentu. Penghasilan saya sering naik turun,  sementara kebutuhan keluarga cukup besar. Saya berharap memiliki keterampilan yang  dapat saya gunakan kapan saja. Jika nanti ada modal, saya berencana membuka layanan  potong rambut di rumah.” 

Direktur Eksekutif BSI Maslahat, Sukoriyanto Saputro menyampaikan bahwa BSI Maslahat  berkomitmen mendorong para dhuafa memiliki keterampilan sebagai bekal untuk mempunyai  penghasilan tetap untuk menghidupi keluarga.

“Kami meyakini bahwa satu keterampilan  mampu mengubah arah kehidupan satu keluarga. Karena itu, kami akan terus membuka  ruang pembelajaran dan pendampingan agar kemandirian dapat tumbuh dengan kokoh,  berkelanjutan, dan memberi dampak nyata bagi keluarga penerima manfaat.” ujarnya. 

BSI Maslahat memandang dhuafa sebagai bagian penting dari kekuatan bangsa. Mereka  bukan sekadar angka dalam laporan statistik, melainkan keluarga, harapan, dan masa depan  yang harus dijaga. Ketika dhuafa mencapai kemandirian, ketahanan sosial ikut menguat dan  memberi dampak yang meluas. 

Kemandirian tidak selalu lahir dari modal besar. Ia tumbuh dari keterampilan yang diasah  dengan konsisten, dari latihan yang melelahkan namun membentuk karakter, dan dari  keberanian mencoba. Setiap proses kecil menjadi fondasi bagi perubahan yang lebih besar. 

Di penghujung pelatihan, peserta membawa sertifikat dan keterampilan yang akan  membimbing mereka mendapatkan pekerjaan, serta keyakinan baru bahwa hidup dapat  diubah perlahan melalui usaha yang tekun. Melalui pelatihan ini, BSI Maslahat meneguhkan komitmennya untuk menghadirkan maslahat  untuk bangsa. Mendorong setiap dhuafa berdiri dengan keterampilan, membuka peluang  yang lebih adil bagi keluarga rentan, serta menumbuhkan kemandirian yang memperkuat  fondasi sosial masyarakat.

doc. BSI Maslahat
doc. BSI Maslahat

Related posts

Leave a Reply