
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpotensi melanjutkan pelemahan pada pekan ini setelah gagal menembus zona resistance utama. Risiko geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasar, namun harapan meredanya konflik lewat jalur diplomasi membuat kekhawatiran soal pasokan global sedikit mengendur.
Sinyal Teknikal Melemah
Menurut analisis Dupoin Futures, pada grafik empat jam (H4) WTI sempat mencoba menembus zona resistance kuat di kisaran US$103,31 hingga US$104,84, namun belum berhasil melewatinya. Kegagalan ini dibaca sebagai tanda tekanan beli mulai kehilangan tenaga. Analis Geraldo Kofit dari Dupoin Futures juga mengamati terbentuknya pola Rising Wedge, yakni pergerakan harga naik dalam rentang yang kian menyempit, yang kerap menjadi pertanda potensi pembalikan arah ke tren turun. Sinyal ini diperkuat oleh indikator Stochastic yang menunjukkan Bearish Divergence, mengisyaratkan momentum kenaikan harga mulai berkurang.
Baca juga:
- Harga Emas Pekan Depan Berisiko Turun ke US$3.946, Ini Sebabnya
- Harga Emas Tembus US$4.000, Analis Proyeksi ke US$4.072
Faktor Geopolitik vs Diplomasi
Di sisi fundamental, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang bisa menahan penurunan harga, karena potensi gangguan distribusi minyak dapat mempertahankan premi risiko. Namun pembicaraan antara Iran dan Qatar membuka harapan akan tercapainya kesepakatan yang meredakan konflik, sehingga bisa mengurangi kekhawatiran pasar terhadap pasokan dan mendorong sebagian pelaku pasar mengurangi eksposur ke minyak.
Kenaikan harga WTI yang cukup signifikan sepanjang Oktober juga membuatnya rentan terhadap aksi ambil untung, terutama bila sentimen damai di Timur Tengah makin menguat di tengah sinyal teknikal yang sudah melemah.
Dupoin Futures menekankan bahwa arah WTI selanjutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara risiko gangguan pasokan dan peluang meredanya konflik, termasuk keputusan negara produsen minyak soal tingkat produksi. Selama harga belum menembus resistance US$103,31–US$104,84, peluang koreksi dinilai masih terbuka. Analisis ini merupakan skenario pasar, bukan kepastian arah harga maupun rekomendasi transaksi, mengingat perdagangan berjangka memiliki risiko kerugian yang signifikan.
Sumber: Dupoin Futures (PT. Dupoin Futures Indonesia).





