SautKat dan The Joo’s Gelar Tur ke Yogyakarta dan Semarang 2026

SautKat dan The Joo’s Gelar Tur ke Yogyakarta dan Semarang 2026

Dua unit musik independen asal Surabaya, SautKat dan The Joo’s, memulai rangkaian tur perdana bertajuk Meridian Kinematics ke Jawa Tengah pada 24-25 Oktober 2026. Tur ini digagas oleh label independen Gemar Records bersama dukungan kolektif popdiselatan.

Rombongan yang beranggotakan sekitar 20 orang, terdiri dari personel band, tim produksi, dokumentasi, dan perwakilan kolektif, bertolak dari Surabaya pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Pertunjukan pertama berlangsung di Mili by Shaggydog, Yogyakarta, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke DUDS Space, Semarang, pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Bacaan Lainnya

Melanjutkan Jaringan Musik Independen

Pemilihan Semarang sebagai salah satu titik persinggahan melanjutkan hubungan antarkolektif yang sebelumnya terjalin lewat kolaborasi Atlas Records, Gemar Records, dan popdiselatan dalam tur roster maryanne di Surabaya. Bagi Gemar Records, kolaborasi semacam ini menjadi bukti keberlangsungan jaringan musik independen lintas kota yang memungkinkan musisi, label, dan kolektif memperluas jangkauan karya secara bersama-sama.

SautKat dan The Joo’s resmi bergabung sebagai roster Gemar Records sejak Mei 2026. Pada kuartal ketiga tahun ini, keduanya merilis karya terbaru masing-masing, yakni EP Meledak dari SautKat dan EP Eksibisi Makhluk Aneh dari The Joo’s. Melalui tur ini, Gemar Records ingin memperkenalkan karakter musikal dan perkembangan kedua band tersebut kepada pendengar di luar Surabaya.

Selain pertunjukan musik, rombongan juga membawa lapak merchandise resmi berupa kaos, gantungan kunci, pin, sticker set eksklusif, hingga CD EP selama persediaan masih tersedia. Jika rangkaian tur ini berjalan sesuai harapan, Gemar Records telah memproyeksikan perluasan rute berikutnya menuju koridor Jawa Barat.

Catatan Redaksi. Tur semacam ini biasa ditopang jaringan label independen dan kolektif lokal di tiap kota yang saling membuka panggung dan koneksi venue, bukan promotor besar tunggal. Dengan skema itu, band dari satu kota bisa tampil di kota lain lewat kerja sama antarkolektif setempat, sementara EP dan merchandise fisik seperti CD menjadi sumber pendapatan utama musisi independen karena distribusi streaming umumnya memberi royalti yang kecil per putar.

Sumber: Gemar Records.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan