Global Millennial MUN 2026: 1.200 Delegasi dari 12 Negara di Jakarta

Global Millennial MUN 2026: 1.200 Delegasi dari 12 Negara di Jakarta
Ilustrasi (AI)

Global Millennial Model United Nations (GM MUN) 2026 edisi ke-22 resmi berakhir setelah berlangsung tiga hari, 16-18 Oktober 2026, di Grand Sahid Jakarta. Konferensi yang diselenggarakan oleh Globy ini diikuti lebih dari 1.200 delegasi dari 12 negara, termasuk Thailand, Lebanon, Malaysia, Brunei Darussalam, serta untuk pertama kalinya Prancis dan Belanda.

Mengangkat tema yang sama dengan edisi sebelumnya, “Forging a Sustainable Future”, para delegasi diajak merumuskan resolusi atas isu-isu global dalam kerangka simulasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Selain peserta dari Jakarta, delegasi juga datang dari berbagai kota seperti Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Bali, dan Kalimantan.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Pembukaan dan Pembicara Kunci

Upacara pembukaan pada 16 Oktober 2026 mengusung tema kostum ala dunia sihir dan menghadirkan tiga pembicara kunci: Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Anggota DPR RI), Wataru Ueno (Direktur PT SPRIX Education Indonesia), dan Miklos Gaspar (Direktur UNIC Jakarta). Ketiganya menekankan pentingnya integritas, kolaborasi lintas negara, dan dampak nyata diplomasi dalam kehidupan masyarakat.

Selama dua hari sidang, delegasi terbagi dalam enam council yang disesuaikan dengan jenjang usia. Untuk peserta di bawah 15 tahun, pembahasan meliputi perlindungan warisan budaya dari dampak perubahan iklim, transisi energi terbarukan, dan perlindungan anak. Sementara delegasi berusia 15-21 tahun membahas dampak kesehatan dari polusi udara, hak asasi manusia di tengah krisis iklim, dan proteksionisme hijau terhadap negara berkembang.

Muflih Dwi Fikri, Founder dan CEO Globy, menyebut Model United Nations sebagai laboratorium kepemimpinan bagi generasi muda untuk belajar bernegosiasi dan mencari solusi atas masalah global. Setelah sukses di Jakarta, GM MUN akan digelar di Bandung pada 29-31 Januari 2027.

Catatan Redaksi. Model United Nations adalah simulasi sidang PBB, peserta berperan sebagai delegasi negara tertentu dan harus berunding merumuskan resolusi sesuai posisi negara yang diwakilinya, bukan pendapat pribadi. Pembagian berdasarkan usia dan isu yang berbeda, misal perubahan iklim untuk peserta muda dan proteksionisme hijau untuk remaja, mencerminkan kompleksitas argumentasi yang disesuaikan dengan tahap perkembangan kemampuan berpikir kritis peserta.

Sumber: Globy.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan