
Harga emas dunia masih menghadapi tekanan jual pada perdagangan Selasa (6/10/2026), seiring menguatnya dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat. Analis PT Dupoin Futures Indonesia, Geraldo Kofit, menilai tren XAU/USD masih berpotensi melanjutkan pelemahan meski ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober mulai mengecil setelah data tenaga kerja AS melemah.
Rejection di Resistance 4.170
Menurut Geraldo, pergerakan emas pada grafik harian menunjukkan penolakan kuat atau rejection di zona resistance 4.170, menandakan pembeli belum mampu menahan momentum kenaikan. Selama level tersebut belum ditembus dan dipertahankan, tekanan bearish dinilai masih berpeluang berlanjut menuju area support berikutnya di kisaran 4.109 hingga 4.086. Pola teknikal Drop Base Drop yang terbentuk pada chart harian turut memperkuat sinyal potensi pelemahan lanjutan.
Baca juga:
- Harga Minyak WTI Berpotensi Turun ke Level 83-86 Dolar
- Harga Emas Hari Ini Tertekan Dolar, Berpotensi ke US$4.064
Dari sisi data pasar, Reuters mencatat harga emas spot sempat turun sekitar 0,3 persen ke level 4.128,69 dolar AS per troy ounce. Penguatan dolar dan kenaikan yield Treasury menjadi faktor utama yang menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil, meski peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kini dinilai pasar jauh lebih rendah dibanding sebelumnya.
Faktor Fundamental dan Geopolitik
Geraldo mengingatkan bahwa penurunan ekspektasi pengetatan moneter sebenarnya dapat menjadi faktor pendukung bagi emas, namun penguatan dolar dan yield Treasury yang masih tinggi tetap menjadi penghambat utama. Selain faktor moneter, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga disebut dapat meningkatkan minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai apabila risiko kembali meningkat.
Secara keseluruhan, level resistance 4.170 dan support 4.109-4.086 dinilai menjadi acuan penting bagi pelaku pasar untuk memantau arah pergerakan emas selanjutnya, seiring dinamika dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Sumber: PT. Dupoin Futures Indonesia.





