Harga Minyak WTI Hari Ini Diprediksi Melemah ke 86,40-83,60

Harga Minyak WTI Hari Ini Diprediksi Melemah ke 86,40-83,60
Ilustrasi (AI)

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan masih berpotensi melemah setelah gagal menembus zona resistance di kisaran 92,37-94,71 dolar AS per barel. Menurut analisis PT Dupoin Futures Indonesia, kegagalan ini menjadi sinyal bahwa momentum penguatan (bullish) belum cukup kuat untuk mempertahankan harga di level tinggi.

Potensi Koreksi ke Level Support

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai bahwa apabila tekanan jual kembali meningkat, harga WTI berpotensi melanjutkan koreksi menuju zona support di kisaran 86,40-83,60 dolar AS per barel. Area 86,40 dolar disebut sebagai support terdekat yang perlu dicermati sebelum harga menguji level 83,60. Jika zona tersebut mampu dipertahankan, peluang rebound teknikal masih terbuka; sebaliknya, jika tertembus, tekanan bearish berpotensi berlanjut.

Bacaan Lainnya

Faktor Geopolitik dan Pasokan

Dari sisi fundamental, Reuters melaporkan WTI ditutup di kisaran 90,42 dolar AS per barel pada 30 September 2026, naik sekitar 1,2 persen pada hari itu dan mencatat kenaikan sekitar 5 persen sepanjang September. Penguatan tersebut terjadi di tengah kebuntuan pembicaraan Amerika Serikat dan Iran serta kondisi pasar energi yang masih ketat.

Di sisi lain, arus ekspor minyak dari kawasan Teluk dilaporkan mulai pulih. Goldman Sachs memperkirakan ekspor dari kawasan tersebut mencapai sekitar 23,3 juta barel per hari dalam sepekan terakhir, sementara Arab Saudi kembali mengirimkan minyak dari pelabuhan Laut Merah setelah jalur pipa East-West Pipeline kembali beroperasi. Pemulihan arus pasokan ini berpotensi mengurangi tekanan kenaikan harga yang sebelumnya didorong oleh kekhawatiran suplai.

Dupoin Futures juga mencatat bahwa stok bensin dan distilat di Amerika Serikat justru menurun meski persediaan minyak mentah meningkat, sehingga keseimbangan antara pasokan minyak mentah dan kebutuhan produk olahan tetap menjadi perhatian pasar. Perkembangan di Selat Hormuz, kebijakan cadangan minyak strategis AS, serta dinamika hubungan AS-Iran disebut sebagai faktor yang masih bisa mengubah arah harga secara cepat.

Sumber: PT. Dupoin Futures Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan