Women Forest Defenders: 5 Buku Anak Diluncurkan di IIBF 2026

Women Forest Defenders: 5 Buku Anak Diluncurkan di IIBF 2026

Lima buku cerita anak dalam seri Women Forest Defenders resmi diluncurkan dalam ajang Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC). Peluncuran digelar di Panggung Children’s Book Festival lewat sebuah talk show bertajuk “Watching the Forest, Growing the Future”, hasil kolaborasi IIBF 2026, program Let’s Read, dan The Asia Foundation.

Tiga perempuan penjaga hutan turut hadir membagikan pengalaman mereka, yakni Ani Tasriah dan Tessa Pranisti dari Sumatera Selatan, serta Lilik Ernawati dari Nusa Tenggara Barat. Kelima buku — Perempuan Penjaga Rimba, Berebut Jambu Hutan, Komang dan Benih Harapan, Ke Mana Burung-Burung Pergi?, dan Menanti Rayeuk Pulang — ditulis dan diilustrasikan oleh penulis serta ilustrator Indonesia, mengangkat cerita keseharian anak yang dekat dengan hutan dan satwa di sekitarnya.

Bacaan Lainnya

Bagian dari Program Pendampingan Perempuan

Ani Tasriah dan Tessa Pranisti merupakan dampingan Pilar Nusantara (PINUS) Sumatera Selatan, sementara Lilik Ernawati didampingi KONSEPSI NTB. Ketiganya tergabung dalam program Women Forest Defenders milik The Asia Foundation yang berjalan di empat provinsi — Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat — serta tingkat nasional. Program ini mencatat 24.292 hektare hutan yang pengelolaannya melibatkan kelompok perempuan secara aktif, dengan 171 perempuan aktif menjaga hutan dan 42 perempuan menduduki posisi pengambil keputusan.

“Hutan memberi kita banyak buah dan makanan yang lezat. Kalau ingin terus bisa menikmatinya, kita harus belajar menjadi anak yang bertanggung jawab,” ujar Ani Tasriah. Tessa Pranisti menambahkan bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas laki-laki, dan berharap buku-buku ini bisa menumbuhkan keberanian anak perempuan sejak dini. Sementara itu, Lilik Ernawati yang memimpin KUPS Cempaka Empat di Desa Karang Sidemen menyebut hutan yang dijaga hari ini sebagai warisan untuk generasi mendatang.

Country Representative The Asia Foundation Indonesia, Hana Satriyo, menyampaikan bahwa seri buku ini dibuat agar anak-anak mengenal sosok penjaga hutan sejak kecil, tidak hanya disampaikan kepada pembuat kebijakan dan mitra. Kelima buku dapat dibaca gratis melalui Let’s Read, perpustakaan digital buku cerita anak dari The Asia Foundation, di situs letsreadasia.org.

Catatan Redaksi. KUPS atau Kelompok Usaha Perhutanan Sosial adalah kelembagaan yang dibentuk pemerintah agar warga sekitar hutan bisa mengelola hasil hutan secara legal dan berkelanjutan, biasanya lewat skema hutan desa atau hutan kemasyarakatan. Program pendampingan oleh organisasi seperti PINUS dan KONSEPSI NTB umumnya berfungsi menguatkan kapasitas kelompok ini, dari pengelolaan lahan hingga advokasi kebijakan, sehingga keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan bisa tumbuh secara terstruktur, bukan sekadar partisipasi simbolis.

Sumber: The Asia Foundation.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan