
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) masih bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian geopolitik dan dinamika pasokan global. Pada perdagangan Rabu, 30 September 2026, WTI tercatat naik tipis sekitar 0,34 dolar AS menjadi US$89,72 per barel, setelah Presiden AS Donald Trump membantah kabar bahwa negaranya bersedia melonggarkan sanksi terhadap Iran.
Analisis Teknikal: Ancaman Koreksi ABC
Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, harga WTI masih gagal menembus area supply di kisaran 96,50-99,06 dolar AS. Kegagalan ini membuka peluang terbentuknya pola koreksi ABC yang berpotensi menyeret harga turun menuju area support berikutnya di 88,67-86,61 dolar AS. Selama level supply tersebut belum ditembus dan bertahan, tekanan korektif dinilai masih akan membayangi pergerakan WTI.
Baca juga:
Faktor Fundamental yang Membayangi
Di sisi lain, sejumlah perkembangan dinilai dapat membatasi penguatan harga lebih lanjut. Reuters melaporkan pasokan minyak dari Timur Tengah mulai pulih, termasuk kembali aktifnya pengiriman Arab Saudi lewat pelabuhan Laut Merah setelah jalur East-West Pipeline beroperasi normal. Ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut bahkan disebut mencapai level tertinggi sejak Februari. Sementara itu, data American Petroleum Institute (API) mencatat kenaikan persediaan minyak mentah dan bensin AS, meski stok distilat justru menurun. Pasar kini menanti rilis data resmi Energy Information Administration (EIA) untuk gambaran lebih lengkap.
Dupoin Futures menilai pelaku pasar perlu mencermati kombinasi antara struktur teknikal dan perkembangan fundamental sebelum mengambil keputusan, mengingat volatilitas minyak masih tinggi di tengah ketegangan geopolitik AS-Iran dan perubahan ekspektasi pasokan global.
Catatan Redaksi. Pola koreksi ABC adalah istilah analisis teknikal untuk gerakan harga dalam tiga tahap yang melawan tren utama sebelum tren itu berlanjut, sehingga potensi penurunan ke area support dianggap sebagai jeda sementara, bukan pembalikan arah penuh. Data API berasal dari survei sukarela asosiasi industri perminyakan AS dan biasanya terbit sehari sebelum data resmi EIA milik pemerintah, sehingga pasar sering memakainya sebagai sinyal awal meski angkanya bisa berbeda dari rilis resmi.
Sumber: Dupoin Futures (PT. Dupoin Futures Indonesia).





