Stasiun Bandung Cetak Rekor Penumpang KA, Naik 10% di 2026

Stasiun Bandung Cetak Rekor Penumpang KA, Naik 10% di 2026

Tujuh stasiun di wilayah kerja PT KAI Daop 2 Bandung mencatat pertumbuhan jumlah penumpang kereta api jarak jauh sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Ketujuh stasiun tersebut yakni Bandung, Kiaracondong, Tasikmalaya, Banjar, Garut, Purwakarta, dan Cimahi kini tak hanya berfungsi sebagai tempat naik-turun penumpang, tetapi juga menjadi simpul mobilitas yang menghubungkan perjalanan masyarakat dengan berbagai moda transportasi dan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Penumpang Tembus 2,7 Juta, Naik 10 Persen

Berdasarkan data KAI Daop 2 Bandung, ketujuh stasiun itu melayani 2.714.899 penumpang keberangkatan pada Januari-Agustus 2026, naik sekitar 10,43 persen dibandingkan periode sama tahun 2025 yang tercatat 2.458.383 penumpang. Stasiun Bandung menjadi yang tersibuk dengan 1.162.299 penumpang, disusul Kiaracondong dengan 641.016 penumpang. Adapun Stasiun Purwakarta mencatat lonjakan paling signifikan, dari 90.122 penumpang pada 2025 menjadi 147.873 penumpang pada 2026.

Bacaan Lainnya

Manager Humasda KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, mengatakan pertumbuhan mobilitas masyarakat yang menggunakan kereta api perlu diikuti penguatan konektivitas antara stasiun dan kawasan sekitarnya. Menurutnya, akses menuju stasiun yang terintegrasi dengan angkutan umum, kendaraan pribadi, layanan pengumpan, hingga fasilitas umum perkotaan akan membuat perjalanan masyarakat lebih mudah dan efisien.

Stasiun Jadi Penggerak Ekonomi Kawasan

Kuswardojo menambahkan, tingginya mobilitas penumpang KA turut menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar stasiun, mulai dari perdagangan, kuliner, jasa transportasi, akomodasi, hingga usaha mikro. Ia menilai pengembangan kawasan stasiun perlu dipandang sebagai bagian dari ekosistem transportasi yang lebih luas, bukan berdiri sendiri, sehingga kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pengelola kawasan menjadi kunci untuk memperkuat peran stasiun sebagai simpul mobilitas sekaligus penggerak ekonomi lokal di Jawa Barat.

Catatan Redaksi. Konsep yang disinggung Kuswardojo dikenal sebagai transit oriented development, yakni pengembangan kawasan di sekitar simpul transportasi agar orang bisa berpindah dari kereta ke moda lain atau ke pusat kegiatan tanpa jarak tempuh jauh. Pendekatan ini lazim diterapkan di kota-kota dengan volume penumpang kereta tinggi karena stasiun yang terintegrasi baik cenderung menumbuhkan aktivitas ekonomi di sekitarnya, bukan sekadar menjadi titik naik turun penumpang.

Sumber: KAI Daop 2 Bandung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan