
Harga minyak dunia bergerak menguat pada perdagangan awal pekan ini setelah negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran belum membuahkan kesepakatan soal pembukaan kembali Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump dikabarkan menolak proposal perdamaian yang diajukan Iran, sehingga kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut kembali meningkat.
Berdasarkan data yang dikutip dari Reuters, harga minyak Brent naik sekitar 1,27% menjadi US$105,64 per barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$93,11 per barel pada awal perdagangan Senin, 28 September 2026.
Baca juga:
- Harga Emas Hari Ini Tertekan di Bawah US$4.300, Ini Prediksinya
- Prediksi Harga Emas Pekan Depan: Emas Berpeluang ke 4.282
Analisis Teknikal: WTI Masih Rawan Tertekan
Meski menguat, analis Dupoin Futures Indonesia, Geraldo Kofit, menilai pergerakan WTI pada grafik harian justru mulai memasuki tren bearish baru. Harga belum mampu menembus dan bertahan di atas zona resistance 96,78–99,05, sehingga tekanan jual dinilai masih berpotensi mendominasi. Jika tekanan itu berlanjut, WTI berpeluang melemah menuju area support terdekat di 88,70–86,54.
Struktur harga WTI juga menunjukkan pola ABC Correction yang diperkuat oleh munculnya pola Bearish Engulfing, indikasi adanya tekanan jual setelah harga sempat mengalami kenaikan. Selama resistance 96,78–99,05 belum berhasil ditembus, potensi pelemahan lanjutan dinilai masih terbuka.
Di sisi lain, pemulihan arus ekspor minyak dari Timur Tengah, termasuk kembali normalnya aktivitas ekspor Arab Saudi, disebut dapat membatasi kenaikan harga lebih lanjut apabila berlangsung konsisten. Dengan demikian, pasar minyak saat ini berada di antara dua sentimen: risiko gangguan pasokan akibat ketegangan AS-Iran di satu sisi, dan perbaikan arus pasokan global di sisi lain. Perkembangan negosiasi kedua negara serta situasi Selat Hormuz akan menjadi katalis utama yang menentukan arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan.
Catatan Redaksi. Selat Hormuz adalah jalur laut sempit antara Iran dan Semenanjung Arab yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga ancaman penutupannya selalu memicu kekhawatiran pasar. Sementara itu, resistance dan support dalam analisis teknikal adalah level harga yang secara historis sering menahan kenaikan atau penurunan, sedangkan pola Bearish Engulfing menandakan tekanan jual mulai mengambil alih dari tren naik sebelumnya.
Sumber: Dupoin Futures Indonesia (PT. Dupoin Futures Indonesia).





