Bitcoin Tembus US$80.000 Lagi, Ether dan Solana Ikut Reli

Bitcoin Tembus US.000 Lagi, Ether dan Solana Ikut Reli
Ilustrasi (AI)

Harga Bitcoin kembali menembus level psikologis US$80.000 pada perdagangan Jumat, 18 September 2026, setelah sempat tertekan akibat kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dan gagalnya rancangan undang-undang Clarity Act di Senat AS. Mengutip Yahoo Finance, penguatan tersebut membawa Bitcoin ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir.

Sempat Anjlok, Lalu Pulih 6%

Sebelumnya, harga Bitcoin sempat merosot hingga mendekati US$75.000 di awal pekan setelah pemungutan suara Clarity Act di Senat AS gagal memenuhi kuorum yang dibutuhkan untuk melanjutkan proses legislasi. Tekanan itu diperparah oleh keputusan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, kenaikan pertama sejak 2023, yang biasanya membebani aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto. Meski begitu, pasar kripto terbukti mampu menyerap sentimen kebijakan moneter yang lebih hawkish tersebut, dan Bitcoin berbalik menguat sekitar 6% pada Jumat.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Altcoin Ikut Menghijau

Penguatan tidak berhenti di Bitcoin. Dalam sebulan terakhir hingga Jumat, Ether tercatat naik sekitar 35%, Binance Coin sekitar 25%, dan Solana sekitar 41%, menandakan adanya rotasi minat investor ke aset kripto di luar Bitcoin. Total kapitalisasi pasar kripto global pun ikut terdongkrak hingga mencapai sekitar US$2,66 triliun, menurut data CoinMarketCap yang dikutip Yahoo Finance. Selain aset kripto konvensional, token yang merepresentasikan saham seperti Nvidia, Tesla, hingga indeks S&P 500 juga mulai ramai diperdagangkan.

Didorong Faktor Teknis, Risiko Tetap Membayangi

Analis Bitget Wallet, Lacie Zhang, menyebut arus dana masuk ke ETF Bitcoin spot di AS serta aksi short covering turut mempercepat kenaikan harga melewati US$80.000. Namun penguatan berbasis faktor teknis semacam ini dinilai perlu dicermati karena keberlanjutannya bergantung pada permintaan baru di pasar. Ke depan, arah kebijakan suku bunga The Fed serta kejelasan regulasi aset digital di AS – menyusul gagalnya Clarity Act – masih menjadi faktor risiko utama yang dapat memengaruhi pergerakan harga kripto.

Sumber: Nanovest.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan