
Kebutuhan brand untuk membuat konten media sosial ramai kini tak lagi harus lewat tim internal atau agency berbiaya mahal. Konsep microtask yang berkembang di Indonesia memungkinkan brand mempertemukan kebutuhan campaign langsung dengan ribuan talent lewat satu platform, dengan biaya yang lebih terukur per tugas.
Tren ini turut mendorong minat masyarakat pada kerja online dan kerja sampingan, karena membuka peluang penghasilan tambahan lewat tugas digital yang bisa dikerjakan dari ponsel. Salah satu platform yang menyasar kebutuhan ini adalah NambahCuan, yang kini diklaim didukung lebih dari 10.000 talent terdaftar.
Tiga Kategori Tugas
NambahCuan menyediakan tiga jenis tugas yang bisa dipilih sesuai waktu luang penggunanya. Pertama, buzzer, yaitu mendistribusikan campaign lewat akun media sosial pribadi sesuai instruksi. Kedua, clipper video, yakni mengolah video panjang menjadi klip pendek format vertikal untuk TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts menggunakan aplikasi editing dasar seperti CapCut. Ketiga, micro-job media sosial, yaitu tugas-tugas ringan lain dengan tingkat kesulitan dan komisi yang bervariasi. Pendaftaran sebagai talent tidak dikenakan biaya, dan pengguna bebas memilih tugas tanpa kewajiban mengambil semua campaign yang ditawarkan.
Di antara tiga kategori tersebut, tugas clipper dianggap membutuhkan keterampilan tambahan karena talent harus mengedit sendiri video sebelum diunggah. Menurut keterangan NambahCuan, penilaian tugas ini berdasarkan hasil kerja, bukan jumlah followers, sehingga akun kecil sekalipun berpeluang mengambil tugas ini. Saldo dilaporkan langsung masuk ke akun talent setelah hasil kerja diverifikasi sistem.
Potensi Komisi dan Klarifikasi Skema
Soal penghasilan, NambahCuan menyebut tugas buzzer dan micro-job berpotensi memberi Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari, sementara tugas clipper bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp15 juta per bulan bagi talent yang aktif. Perusahaan menegaskan angka tersebut adalah potensi berdasarkan aktivitas, bukan pendapatan tetap yang dijamin. Admin NambahCuan, yang disebut sebagai Mas Abai, juga menegaskan bahwa platform ini bukan skema rekrutmen berjenjang, karena komisi talent berasal dari tugas yang mereka kerjakan sendiri, bukan dari merekrut anggota baru.
Catatan Redaksi. Artikel ini bersumber dari siaran pers PT BisnisOn Digital Solutions, pengelola platform NambahCuan yang dibahas di dalamnya. Model microtask sendiri memecah pekerjaan besar seperti kampanye promosi menjadi tugas-tugas kecil yang dikerjakan banyak orang lepas dan dibayar per hasil, berbeda dari skema rekrutmen berjenjang yang penghasilannya bergantung pada merekrut anggota baru, bukan pada pekerjaan yang diselesaikan sendiri.
Sumber: PT BisnisOn Digital Solutions.





