Pelindo Sinergi Lokaseva Bahas Resiliensi Pelabuhan ASEAN 2026

Pelindo Sinergi Lokaseva Bahas Resiliensi Pelabuhan ASEAN 2026

PT Pelindo Sinergi Lokaseva (PT PSL) ikut ambil bagian sebagai pembicara dalam CEO Forum pada ajang 24th ASEAN Ports and Logistics 2026 yang berlangsung di Sofitel Kuala Lumpur Damansara, Malaysia, pada 7–9 Juli 2026. Forum yang diselenggarakan oleh Port Klang Authority ini menjadi ajang tahunan bagi pemangku kepentingan sektor pelabuhan, logistik, pelayaran, dan rantai pasok di kawasan Asia Tenggara, dengan lebih dari 300 eksekutif senior, 35 pembicara, dan 50 exhibitor dari berbagai negara ASEAN.

Direktur Utama PT PSL, Faruq Hidayat, membawakan paparan bertema penguatan konektivitas maritim melalui transformasi pelabuhan, sekaligus membahas cara mengantisipasi gangguan arus kargo global dan proyeksi jalur perdagangan dunia ke depan serta dampaknya bagi pelabuhan-pelabuhan ASEAN.

Bacaan Lainnya

Ketidakpastian Global Jadi Tantangan Berkelanjutan

Menurut Faruq, tantangan seperti konflik geopolitik, perubahan jalur pelayaran, volatilitas energi, hingga pergeseran kebijakan perdagangan kini bukan lagi kondisi sementara, melainkan bagian dari dinamika bisnis global yang berlangsung terus-menerus. Karena itu, pelabuhan dituntut membangun resiliensi agar tetap tumbuh secara berkelanjutan.

Ia memaparkan dua strategi utama yang tengah dijalankan. Pertama, peningkatan kinerja pelabuhan lewat digitalisasi layanan, standarisasi operasional, dan integrasi data untuk mendukung efisiensi serta produktivitas. Kedua, integrasi pelabuhan dengan kawasan pendukungnya (port-hinterland integration) guna membangun ekosistem industri yang memperkuat konektivitas rantai pasok dan menekan biaya logistik nasional.

Beberapa proyek integrasi yang tengah berjalan antara lain Pelabuhan Kuala Tanjung dengan kawasan pendukungnya, Ekosistem Kalibaru beserta akses jalan dan kawasan sekitarnya, Pelabuhan Kijing dengan Kijing Port Supporting Area, Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, serta Tanjung Emas Export Processing Zone (TEPZ) di Semarang. Digitalisasi ini juga menjadi bagian dari pengembangan Maritime Ecosystem Platform untuk mendukung program pemerintah menuju One Maritime Data.

Partisipasi PT PSL di forum internasional ini sekaligus menjadi ajang berbagi pengalaman transformasi pelabuhan Indonesia serta membuka peluang kolaborasi dengan investor, operator pelabuhan, dan mitra bisnis dari berbagai negara ASEAN untuk memperkuat konektivitas maritim regional.

Catatan Redaksi. Port-hinterland integration adalah pendekatan menyatukan operasional pelabuhan dengan kawasan industri, jalan akses, dan zona logistik di sekitarnya, sehingga barang bisa berpindah dari kapal ke pabrik atau gudang tanpa hambatan administratif dan fisik berlebih. Pendekatan ini berbeda dari model lama yang memperlakukan pelabuhan sebagai titik bongkar muat terpisah dari kawasan industri pendukungnya, sehingga biaya logistik cenderung lebih tinggi akibat proses transit dan penanganan berulang.

Sumber: PT Pelindo Sinergi Lokaseva.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan