Bitcoin Tembus US$64.000 di Tengah Ketegangan AS-Iran

Bitcoin Tembus US.000 di Tengah Ketegangan AS-Iran
Ilustrasi (AI)

Harga Bitcoin kembali menguat ke kisaran US$63.600–US$64.000 pada pertengahan Agustus 2026, bersamaan dengan meningkatnya kembali ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Data pasar mencatat Bitcoin naik sekitar 0,9% ke level US$63.605, di tengah perhatian investor terhadap perkembangan konflik AS-Iran sekaligus arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve).

Berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran pada 18 Agustus 2026 turut mendorong kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS, sementara emas dan aset kripto mencatat kenaikan tipis. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar kembali bersiap menghadapi potensi volatilitas yang lebih tinggi ke depan.

Bacaan Lainnya

Bitcoin dan Emas, Dua Karakter Berbeda

Meski sama-sama mendapat perhatian saat risiko geopolitik meningkat, Bitcoin dan emas memiliki karakter berbeda. Emas secara tradisional dipandang sebagai aset defensif, dan sempat mencetak rekor harga US$5.405 per troy ounce pada Januari 2026 sebelum terkoreksi. Bitcoin, sebaliknya, masih menunjukkan karakter sebagai aset berisiko yang sensitif terhadap sentimen pasar—pada Juli lalu misalnya, harganya sempat turun dari sekitar US$64.385 ke US$62.037 akibat kekhawatiran dampak ekonomi dari konflik AS-Iran.

Sinyal dari Pasar Derivatif

Selain faktor geopolitik, kondisi pasar derivatif turut menjadi perhatian. Sejak akhir Juni, funding rate Bitcoin berada di wilayah positif, menandakan dominasi sentimen bullish, sementara open interest kontrak futures naik dari sekitar US$44 miliar menjadi US$47,6 miliar pada pertengahan Juli. Kombinasi ini menunjukkan meningkatnya posisi long dengan leverage, yang berisiko memicu likuidasi besar dan memperbesar pergerakan harga apabila sentimen pasar berbalik arah.

Karena itu, penguatan Bitcoin di atas US$64.000 belum tentu menandai kembalinya tren naik secara penuh. Sebelumnya, Bitcoin beberapa kali gagal bertahan di level serupa, termasuk saat sempat menyentuh US$65.500 pada Juli sebelum kembali tertekan akibat aksi ambil untung dan eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Investor disarankan tetap mencermati kemampuan Bitcoin menembus level resistance berikutnya dengan dukungan volume dan permintaan spot yang kuat.

Sumber: Nanovest.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan