
Presiden Prabowo Subianto memuji langkah pembenahan tata kelola pertambangan yang dilakukan PT Timah Tbk, termasuk penertiban aktivitas tambang ilegal di Bangka Belitung. Dalam pidato Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD memperingati HUT ke-81 RI di Gedung Nusantara, Senayan, Prabowo menyebut pemerintah telah menutup sekitar 1.000 tambang timah ilegal di wilayah tersebut sejak akhir tahun lalu.
Prabowo juga meminta Panglima TNI dan Kapolri untuk mengusut aktivitas pertambangan ilegal yang dinilai merugikan negara. Menurutnya, penegakan aturan di sektor pertambangan harus dilakukan tanpa pandang bulu sebagai bagian dari upaya menjaga kekayaan negara.
Laba Melonjak Sembilan Kali Lipat
Pembenahan tata kelola tersebut, kata Prabowo, mulai tercermin pada kinerja keuangan PT Timah. Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026, perseroan membukukan laba bersih Rp2,71 triliun, melonjak 804,6 persen dibandingkan Rp300,07 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Capaian ini bahkan telah melampaui target laba bersih sepanjang 2026 yang ditetapkan sebesar Rp1,61 triliun.
Pendapatan perseroan turut tumbuh signifikan menjadi Rp10,42 triliun, naik 146,9 persen dari Rp4,22 triliun pada semester I 2025. Total aset PT Timah hingga akhir Juni 2026 tercatat Rp16,45 triliun, dengan margin laba bersih sekitar 26 persen dan return on equity (ROE) 25,74 persen.
Produksi dan Harga Global Ikut Menopang
Dari sisi operasional, produksi bijih timah PT Timah pada semester I 2026 mencapai 12.232 ton Sn, naik 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara penjualan logam timah melonjak 85 persen. Kinerja ini juga terbantu penguatan harga timah dunia di London Metal Exchange yang naik 56,68 persen dibanding semester I 2025. Prabowo menyebut valuasi PT Timah pada Agustus 2026 meningkat 280 persen dibandingkan Agustus 2025, dan menegaskan pemerintah akan melanjutkan pembenahan BUMN secara besar-besaran.
Sumber: PT Timah Tbk (Grup MIND ID).





