
Ketidakpastian ekonomi global yang terus berulang setiap tahun kerap membuat calon investor menahan diri untuk mulai berinvestasi. Mulai dari pandemi COVID-19, lonjakan inflasi, konflik geopolitik, hingga gejolak pasar akibat perkembangan teknologi, berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa krisis bukan fenomena sementara, melainkan bagian yang selalu hadir dalam siklus pasar.
Chief Marketing Officer Nanovest, Jovita Widjaja, mengatakan keputusan berinvestasi seharusnya tidak bergantung pada ada atau tidaknya krisis, melainkan pada tujuan keuangan dan strategi yang konsisten. Menurutnya, terlalu lama menunggu kondisi ideal justru berisiko membuat investor kehilangan peluang pertumbuhan jangka panjang.
Pentingnya Mengenali Profil Risiko
Jovita menekankan bahwa tantangan terbesar investor bukan hanya menghadapi volatilitas pasar, tetapi juga belum memahami profil risiko masing-masing. Akibatnya, banyak investor bertindak berdasarkan emosi saat pasar bergejolak, misalnya menjual aset ketika harga sedang turun. Dengan pengalaman lebih dari 14 tahun di industri investasi, ia menilai pasar selalu menunjukkan pola pemulihan setelah krisis, sehingga pertanyaannya bukan lagi soal apakah pasar akan pulih, melainkan kapan.
Untuk mengakomodasi berbagai profil risiko, Nanovest menyediakan sejumlah pilihan produk investasi. Investor dengan karakter konservatif dapat memilih Earn Program atau Digital Gold, sementara investor dengan toleransi risiko lebih tinggi dapat mengalokasikan dana ke saham Amerika Serikat maupun aset kripto.
Konsistensi Dibanding Menunggu Momentum
Jovita menambahkan bahwa kepercayaan investor dibangun melalui edukasi berkelanjutan dan transparansi, agar masyarakat memahami fluktuasi pasar sebagai bagian alami dari perjalanan investasi. Ia menegaskan bahwa membangun kebiasaan berinvestasi secara rutin jauh lebih realistis dibanding menunggu waktu yang dianggap sempurna, karena momen tersebut kemungkinan besar tidak akan pernah datang.
Sumber: Nanovest.





