
PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) menegaskan bahwa wacana penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara 2026 belum memberikan dampak signifikan terhadap permintaan pembiayaan alat berat. Proses revisi RKAB yang berjalan sejak Juli 2026 dinilai perusahaan belum mengganggu aktivitas investasi dan pengadaan alat berat di sektor-sektor produktif.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan permintaan pembiayaan alat berat tahun ini masih ditopang oleh perusahaan dengan fundamental usaha yang kuat serta kebutuhan investasi di berbagai sektor. Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat indikasi penundaan investasi maupun ekspansi akibat dinamika kebijakan RKAB.
Kuota Produksi Batu Bara Diperketat
Isu revisi RKAB mencuat setelah pemerintah menetapkan target produksi batu bara sekitar 600 juta ton untuk 2026, jauh lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 817,48 juta ton. Kebijakan ini diambil untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan sekaligus menstabilkan harga komoditas di pasar global, meski pemerintah membuka peluang relaksasi kuota apabila kondisi pasar mendukung. Proses revisi RKAB sendiri ditargetkan rampung hingga akhir Juli 2026.
Meski sektor tambang batu bara menjadi sorotan, BRI Finance menyebut permintaan pembiayaan alat berat juga datang dari sektor konstruksi, perkebunan, logistik, dan proyek infrastruktur. Diversifikasi portofolio ini dinilai menjadi penopang utama agar prospek bisnis pembiayaan alat berat tetap terjaga di tengah perubahan kebijakan sektor pertambangan.
Perusahaan memproyeksikan pembiayaan alat berat hingga akhir tahun tetap berada pada level yang stabil, dengan tetap mengutamakan kualitas pembiayaan dan manajemen risiko. Kinerja pembiayaan alat berat BRI Finance hingga 2026 tercatat tumbuh 144,68% secara tahunan, dengan kontribusi mencapai 20,17% terhadap total portofolio pembiayaan perusahaan.
Sumber: BRI Finance.





