Kebut Pengembangan Industri Maritim, Pemerintah Susun Tata Kelola Mutiara

38

Jakarta –  Ada empat jenis mutiara yang umumnya dikenal dipasaran. Mutiara akoya, mutiara laut selatan (south sea pearl), mutiara tahiti dan mutiara air tawar. Akoya, laut selatan dan Tahiti merupakan mutiara premium berharga tinggi, sementara mutiara air tawar umumnya produk impor dengan harga yang lebih terjangkau. Sampai saat ini Indonesia adalah produsen mutiara laut selatan terbesar di dunia. Mutiara Indonesia diekspor ke Australia, Amerika Serikat, Jepang dan lain-lain. Meskipun teah memimpin pasar dunia, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman yakin potensi mutiara masih dapat terus dikembangkan.

Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono dalam Rapat Koordinasi Tata Kelola Pengembangan Produk Mutiara di Jakarta (24/1) menegaskan produksi dan pemasaran mutiara Indonesia masih bisa terus dikembangkan, mengingat saat ini baru 2% area laut yang menjadi lokasi budidaya mutiara, padahal dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia , masih banyak lokasi yang bisa menjadi tempat budidaya mutiara.

“Saat ini masih jadi mimpi untuk menjadikan mutiara Indonesia tidak hanya memimpin sebagai eksportir, tapi juga mengembangkan wilayah budidaya, value added mutiara dan pengembangan pasar dalam negeri. Rapat ini baru permulaan, akan ada pembahasan lanjutan untuk memformulasi kebijakan yang diperlukan dalam tata kelola mutiara” Kata Agung dalam pembukaan rapat.

Budidaya mutiara ternyata memang tidak sekemilau kelihatannya. Bahkan saat mengawali rapat, segera teridentifikasi permasalahan tata kelola mutiara yang meliputi perizinan lokasi budidaya yang berdekatan dengan area taman nasional, masalah perizinan terkait analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), masalah importasi mutiara air tawar China, masalah produk mutiara yang gagal bersaing di pasar dalam negeri dan lain-lain.

Rapat Tata Kelola Budidaya Mutiara ini dihadiri Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koordinator Bidang Perkonomian,Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI). Selain identifikasi permasalahan, rapat juga berhasil menyiapkan draf rekomendasi awal.