
Bitcoin (BTC) memasuki penghujung September 2026 dengan momentum yang masih relatif kuat setelah reli dalam beberapa pekan terakhir, meski pergerakan menuju Oktober diperkirakan tidak sepenuhnya mulus. Berdasarkan data CoinMarketCap pada Senin (28/9), BTC diperdagangkan sekitar US$83.400, turun sekitar 1,2% dalam 24 jam, namun masih menguat sekitar 7,5% dalam sebulan terakhir.
Area US$83.000 Jadi Support Penting
CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai area US$82.900–US$83.000 menjadi support kunci memasuki Oktober. Selama level tersebut bertahan, ia melihat peluang Bitcoin kembali menguji US$88.600 hingga US$92.200. Sebaliknya, penurunan konsisten di bawah US$83.000 dapat membuka ruang koreksi menuju sekitar US$81.600, bahkan hingga area rata-rata 50 pekan di kisaran US$78.700. Menurutnya, koreksi jangka pendek merupakan hal wajar setelah reli kuat dan tidak selalu menandai berakhirnya tren naik, selama tidak diikuti tekanan jual yang membesar.
Arus Dana Institusi Masih Deras
Permintaan investor institusional dinilai masih menopang prospek Bitcoin. ETF Bitcoin di Amerika Serikat mencatat net inflow sekitar US$2,4 miliar sepanjang pekan yang berakhir 25 September, menjadi inflow mingguan terbesar sejak Oktober 2025 sekaligus membuat posisi net flow ETF Bitcoin sepanjang 2026 kembali positif. BlackRock IBIT tercatat sebagai kontributor terbesar dengan sekitar US$1,2 miliar, diikuti Fidelity FBTC sekitar US$701,7 juta, melanjutkan tujuh hari perdagangan berturut-turut dengan arus masuk positif.
Sejumlah Katalis Besar Menanti di Oktober
Arah Bitcoin pada Oktober tetap berpotensi ditentukan oleh kondisi makro Amerika Serikat. The Fed pada 16 September telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00% dengan alasan inflasi masih tinggi. Pasar selanjutnya akan mencermati laporan tenaga kerja AS pada 2 Oktober, risalah FOMC pada 7 Oktober, data inflasi konsumen (CPI) pada 14 Oktober, hingga pertemuan kebijakan The Fed berikutnya pada 27–28 Oktober. Yudho menyebut kombinasi data tersebut berpotensi membuat Oktober menjadi bulan dengan volatilitas tinggi, sehingga investor perlu tetap disiplin memantau respons pasar terhadap setiap koreksi harga.
Sumber: FLOQ.





