Kisah Perjuangan Dua Keluarga Penyintas Banjir di Huntara Aceh Tamiang yangBertahan dengan Bantuan Berbagi Sembako BSI Maslahat 

Kisah Perjuangan Dua Keluarga Penyintas Banjir di Huntara Aceh Tamiang yang  Bertahan dengan Bantuan Berbagi Sembako BSI Maslahat 

BSI Maslahat

Aceh Tamiang, 16 Maret 2026 – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh  tidak hanya merendam rumah, sekolah, serta fasilitas publik. Bencana ini juga memutus mata  pencaharian banyak keluarga dan meninggalkan trauma yang mendalam bagi para penyintas. 

Read More

Di balik angka kerusakan dan laporan bencana, ada kisah-kisah perjuangan keluarga yang kini  berusaha bangkit dari kehilangan. Di Hunian Sementara (Huntara) Aceh Tamiang, dua keluarga penyintas bencana, pasangan suami istri Jali Saputra dan Nurmalina serta pasangan Predy dan  Tiara, menjalani hari-hari mereka dengan harapan sederhana. Sekedar bisa bertahan dan  menjaga keluarga tetap kuat dan utuh. 

Perjuangan Jali Saputra Bertahan di Tengah Keterbatasan 

Bagi Jali Saputra, banjir datang ketika hidupnya sudah lebih dulu diuji. Sebelum bencana  melanda, Jali sudah berhenti bekerja sebagai cleaning service di sebuah rumah sakit setelah  mengalami saraf kejepit akibat terjatuh saat bekerja. Cedera tersebut membuat kaki kanannya  sulit digerakkan dan sering terasa nyeri hebat.  

Meski sudah menjalani pengobatan, namun kaki kanan Jali belum bisa kembali normal seperti  sedia kala. Untuk berjalan, Jali harus menggunakan tongkat untuk membantu kaki nya  menopang tubuh. 

Saat banjir besar datang, Jali yang tidak berdaya harus dipapah oleh sang anak untuk menaiki  sampan, menyelamatkan diri, dan meninggalkan rumah yang hampir sepenuhnya terendam  banjir. “Waktu tengah malam, ketika air banjir sudah hampir merendam rumah, saya digendong  anak laki-laki saya untuk naik ke sampan yang bocor demi menyelamatkan diri” ujar Jali. 

Kehidupan setelah banjir kian terasa sulit. Lima anak Jali masih membutuhkan biaya hidup dan  pendidikan, sementara ia tidak lagi mampu bekerja. Dalam situasi itu, Nurmalina, sang istri,  menjadi tulang punggung keluarga. 

Setiap hari Nurmalina mengendarai sepeda motor tua dari Huntara menuju rumah sakit di kota  untuk bekerja sebagai cleaning service, menggantikan pekerjaan yang dulu dilakukan suaminya.  “Alhamdulillah pihak rumah sakit memberi kesempatan istri saya menggantikan saya bekerja.  Tapi kadang saya tidak tega, karena jaraknya dari Huntara ke rumah sakit cukup jauh,” tutur  Jali. 

Hasil dari sang istri bekerja, mereka tabung untuk biaya pendidikan anak-anak, pengobatan jali,  dan keperluan darurat lainnya. Sementara untuk kebutuhan makan sehari-hari, keluarga ini  sangat mengandalkan bantuan yang datang.

“Alhamdulillah dari istri kerja kami simpan untuk  keperluan anak dan pengobatan. Kalau untuk makan sehari-hari kami makan apa yang kami  punya, contohnya dari bantuan sembako dan bagi-bagi takjil seperti ini” tuturnya. 

BSI Maslahat bersama BSI hadir membawa kepedulian dan harapan bagi keluarga Jali dan  Nurmalina serta warga penyintas banjir lainnya yang tinggal di huntara Aceh Tamiang dan desa  sekitar. Ribuan paket sembako disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Adapun paket sembako yang dibagikan berisi beras, minyak goreng, gula, mi instan, susu, serta ikan kaleng. Kehangatan juga terasa saat takjil gratis berupa bubur Aceh dibagikan, menjadi  sajian sederhana yang menguatkan kebersamaan di tengah masa pemulihan.

Di tengah suasana tersebut, kebahagiaan kecil juga dirasakan oleh Risval, anak ketiga dari Jali  dan Nurmalina. Ia menjadi salah satu anak yang menerima santunan dalam kegiatan yang  diselenggarakan BSI Maslahat dan BSI di Huntara Aceh Tamiang pada Sabtu (07/02). Tidak  hanya menerima santunan, Risval dan anak-anak lainnya diajak menikmati dongeng, berbuka  puasa bersama, serta mendapatkan souvenir berupa tas, perlengkapan sekolah, dan Al-Qur’an.  Momen sederhana ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap bantuan, ada harapan dan  semangat baru yang terus tumbuh bagi mereka yang sedang bangkit kembali. 

BSI Maslahat

Kisah Pasangan Predy dan Tiara Bertahan Demi Anak-anak 

Tak jauh dari tempat tinggal keluarga Jali di Huntara, pasangan Predy Sanjaya dan Tiara juga  menjalani kisah perjuangan yang tak kalah berat. Pasangan asal Kampung Dalam itu tak pernah  menyangka banjir bandang akan melenyapkan rumah mereka. 

Dalam hitungan jam, air meluap dan merendam rumah mereka hingga tak ada satu pun barang  yang berhasil diselamatkan kecuali pakaian yang mereka kenakan. Namun bagi Predy, yang  paling menyayat hati bukanlah soal kehilangan rumah.

“Saya masih bisa tahan melihat rumah  kami terendam banjir. Tapi yang paling tidak sanggup saya dengar adalah tangisan anak-anak  di pengungsian. Suara tangisan mereka bersahut-sahutan. Mereka lapar, tapi saat itu bantuan  belum ada yang sampai” ungkap Predy. 

Tiara juga masih mengingat betul hari-hari pertama mereka di pengungsian. Selama tiga hari,  mereka bertahan dengan apa pun yang mereka temukan.

“Selama tiga hari kami di pengungsian,  kami makan apa saja yang ada. Beras yang sudah terendam lumpur kami coba bersihkan, kami  saring air banjir agar layak diminum tapi ternyata airnya tetap kotor. Begitupun anak-anak,  mereka makan dan minum seperti itu juga. Kami tidak punya pilihan, dari pada mereka  kelaparan.” ujar Tiara. 

Kini, setelah direlokasi ke Huntara, keluarga Predy setidaknya memiliki tempat berteduh yang  lebih layak. Meski demikian, kehidupan mereka masih jauh dari kata mudah. Dalam memenuhi  kebutuhan pokok harian keluarga, keluarga Predy mengandalkan sepenuhnya kepada bantuan. 

“Alhamdulillah hadirnya bantuan sembako ini, sangat membantu kami dalam memenuhi  kebutuhan pokok keluarga.” ujar Tiara. 

Jika stok bahan pokok sudah menipis, sementara belum ada lagi bantuan yang datang, Predy  sesekali pergi ke Kota sekitar mencari pekerjaan serabutan.

“Akibat banjir ini, mata pencaharian  saya jadi hilang, Kalau belum ada lagi bantuan datang, saya pergi ke kota Langsa, saya kerjakan  apa saja yang bisa saya kerjakan, yang penting bisa untuk beli popok dan susu anak” ungkap  Predy. 

Kehadiran bantuan sembako ini, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Keluarga Predy dan Tiara.  Setidaknya untuk kebutuhan pokok keluarga selama Ramadan sudah terpenuhi. Salah satu anak  mereka juga turut menjadi peserta pada kegiatan santunan yang diselenggarakan oleh BSI  Maslahat dan BSI. “Alhamdulillah dari uang santunan itulah kami bisa beliin anak baju buat  lebarannya anak anak” ujar Tiara. 

BSI Maslahat

Harapan yang Datang Bersama Kepedulian 

Di Huntara Aceh Tamiang, kisah keluarga Jali dan keluarga Predy, serta banyak keluarga lainnya  menjadi pengingat bahwa di balik setiap bencana ada perjuangan manusia yang luar biasa.

Kehadiran bantuan sembako yang disalurkan kepada warga Huntara menjadi salah satu  penopang penting bagi banyak keluarga. 

Mereka mungkin kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan rasa aman. Namun di tengah  keterbatasan itu, mereka tetap bertahan demi keluarga, demi anak-anak yang menjadi sumber  kekuatan untuk terus melangkah. Kepedulian yang hadir dari berbagai pihak menjadi penguat  bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa sulit ini. Sedikit demi sedikit, harapan kembali  tumbuh, menguatkan langkah mereka untuk bangkit dan menata kembali kehidupan. 

Ramadan menjadi momen terbaik untuk menghadirkan kepedulian bagi mereka yang sedang  berjuang. Melalui program Berbagi Sembako Dhuafa, sahabat dapat ikut menghadirkan  kebahagiaan yang tidak hanya berdampak bagi mereka yang membutuhkan, namun juga  memberikan maslahat untuk bangsa. Mari lipatgandakan pahala di bulan suci ini dengan berbagi  kebaikan bersama BSI Maslahat, agar semakin banyak keluarga yang dapat merasakan  kehangatan dan keberkahan Ramadan.

Related posts

Leave a Reply